Berita

Foto/Net

Bisnis

BPS Klaim Daya Beli Rakyat Masih Bagus

Inflasi Rendah Bukan Berarti Permintaan Melemah
RABU, 02 AGUSTUS 2017 | 09:34 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Pusat Statistik (BPS) menyimpulkan daya beli masyarakat saat ini masih bagus. Hal itu merujuk dari data rendahnya laju inflasi Juli yang tercatat hanya sebesar 0,22 persen.
 
Rendahnya daya beli masyarakat selama ini dituding menjadi salah satu biang keladi lemotnya kinerja pertumbuhan ekonomi. Apalagi, pada bulan Ramadan lalu, kinerja ritel lebih lesu dibandingkan tahun sebe­lumnya.

Kepala BPS Kecuk Suhari­yanto menyebutkan inflasi Juli 0,22 persen. Angka ini lebih ren­dah dari bulan sebelumnya 0,69. Menurutnya, inflasi Juli tergo­long rendah karena masih dalam situasi normalisasi harga-harga setelah Hari Raya Idulfitri.


"Idealnya, kalau inflasi terkendali, maka daya beli bagus. Kalau inflasi tinggi, maka daya beli akan rendah. Ini akan mem­buat daya beli terjaga," kata Ke­cuk dalam jumpa pers, Jakarta, kemarin.

Kecuk tidak sepakat den­gan pandangan rendahnya in­flasi menunjukkan pelemahan permintaan. Menurutnya, inflasi rendah karena pemerintah mampu menjaga stabilitas harga pangan. "Pengendalian pangan jauh lebih bagus meskipun ada bulan puasa," katanya.

Selain itu, lanjut Kecuk, tidak ada dampak dari penyesuaian kenaikan tarif listrik (TDL).

Deputi Bidang Statistik Dis­tribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti memperkuat kesimpu­lan Kecuk. Menurutnya, tidak ada penurunan daya beli, na­mun yang berubah cara belanja masyarakat. "Sekarang banyak online. Banyak masyarakat yang tadi belanja dengan cara konven­sional ke online," ungkapnya.

Data BPS menyebutkan inflasi Juli 2017 lebih disebabkan kom­ponen pengeluaran inti, bukan harga barang atau jasa yang diatur pemerintah (administered price).

Komponen pendidikan, re­kreasi, dan olahraga merupakan komponen yang mengalami in­flasi terbesar pada Juli 2017. Hal tersebut bertepatan dengan tahun ajaran sekolah 2017. In­flasi komponen pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,62 persen, sedangkan andilnya terhadap inflasi mencapai 0,05 persen.

Untuk komponen makanan jadi, minuman, rokok, dan tem­bakau terjadi inflasi sebesar 0,57 persen dan andilnya terhadap inflasi Juli 2017 sebesar 0,1 persen.

Selain itu, komponen ba­han makanan mengalami inflasi 0,21 persen dan andilnya terhadap inflasi Juli 2017 sebesar 0,04 persen. Namun, ada beberapa kelompok bahan maka­nan yang memberikan deflasi yakni bawang putih sebesar 0,07 persen, daging ayam ras 0,02 persen, beras dan cabai merah sebesar 0,01 persen. Kemu­dian, komponen perumahan, listrik, air, dan gas mengalami inflasi 0,06 persen dan andil­nya terhadap inflasi Juli 2017 sebesar 0,02 persen. Sementara komponen sandang dan keseha­tan memiliki andil pada inflasi Juli 2017 sebesar 0,01 persen. Dan, terakhir komponen trans­portasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,08 persen dan andilnya sebesar 0,01 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 59 kota mengalami inflasi dan 23 kota menyumbang deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,44 persen dan terendah di Meulaboh sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, deflasi tertinggi pada periode ini terjadi di Merauke sebesar 1,5 persen dan terendah di Metro dan Probo­linggo masing-masing sebesar 0,07 persen.

Kondisi Masih Oke

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis, laju inflasi sepan­jang 2017 masih bisa mencapai di bawah 4 persen walaupun pada awal tahun inflasi sempat melambung tinggi.

Menurutnya, dengan inflasi Juli 0,22 persen berarti kondisi masih aman. "Kalau inflasi 0,22 persen ya sebenarnya dari rata-rata bulanannya masih masuk karena 0,22 dikali 12 itu belum sampai tiga persen kan. Jadi 0,22 persen masih oke," katanya.

Darmin berharap pada sisa bulan di semester II-2017, laju inflasi akan semakin rendah sehingga target inflasi dapat tercapai. Sebelumnya dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) 2017, pemerintah me­nargetkan inflasi 4 persen, namun direvisi dalam APBN-P menjadi 4,3 persen. ***

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya