Berita

Foto/Net

Nusantara

Pemerintah Diminta Lestarikan Gua Bukti Tsunami Aceh

RABU, 02 AGUSTUS 2017 | 06:23 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Tim peneliti Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) meminta pemerintah untuk segera melestarikan Gua Ek Leuntie yang diterjang tsunami di kawasan Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.

Peneliti Unsyiah Nazli Ismail PhD mengatakan, Gua Ek Leuntie yang berada di pesisir pantai itu menyimpan bukti tsunami selama 7400 tahun yang lalu sehingga harus dilestarikan dan patut dijadikan sebagai museum alam. Hasil temuan Unsyiah dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapore ini berhasil mengidentifikasi lapisan-lapisan pasir yang mengendap akibat tsunami ribuan tahun yang lalu.

"Misteri kedahsyatan tsunami tahun 2004 di Aceh mulai terpecahkan melalui temuan besar ini dan sudah dipublikasikan di Nature Communications," sebutnya dalam konferensi pers di Balai Senat KPA Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Senin (31/7).


Disebutkan, Aceh tidak terlepas dari ancaman gempa karena berada di zona megathrust yang membentang di sebelah barat lepas pantai Sumatera. Selama ini sudah banyak gempa yang terjadi di Aceh dan diantaranya berpotensi tsunami. Maka kajian gua tsunami Aceh ini memberikan gambaran yang sangat penting tentang perulangan bahaya tsunami di sepanjang zona megathrust.

"Informasi-informasi semacam ini akan sangat bermanfaat untuk membantu pengurangan resiko bencana, khususnya bagi masyarakat Aceh yang umumnya mendiami wilayah pesisir," ungkapnya.

Menurutnya, sangat sulit untuk memprediksi secara tepat kejadian tsunami besar berikutnya setelah tsunami 2004. Sebab periode kejadian tsunami di masa lalu juga tidak beraturan. Jadi pemerintah juga perlu meningkatkan upaya penyadaran masyarakat terhadap ancaman bahaya tsunami melalui pendidikan.

"Gua Ek Leutie merupakan situs yang dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran tentang kebencanaan dan Unsyiah berharap keberadaan gua tsunami tersebut dapat dilestarikan," jelasnya.

Berdasarkan hasil amatan peneliti, telah terjadi kegiatan penambangan batu secara masif di sekitar gua tersebut pada tahun 2016. Batu-batu gajah yang ditambang dari gua tersebut digunakan untuk pembangunan dermaga di kabupaten Nagan Raya. Pada saat itu, penambangan hampir merambah sampai beberapa meter dari gua. Jika dilakukan secara terus-menerus, penambangan ini dapat mengancam keutuhan gua sehingga mengancam akan hilangnya informasi berharga tentang rekaman tsunami purba yang berumur ribuan tahun tersebut.

Pada kesempatan yang sama Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng menyampaikan, Unsyiah mendesak semua pihak untuk menyelamatkan situs Gua Ek Leuntie. Masyarakat gampong setempat bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Badan Penanggulangan Bencana Aceh, dan Kemristekdikti perlu menetapkan gua ini sebagai situs cagar tsunami purba yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Kemudian menjadikan situs gua sebagai fasilitas pendidikan dan penelitian lapangan mengenai tsunami purba dan sarana penyadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Aceh.

"Gua Ek Leuntie sangat berpotensi untuk menjadi tujuan pariwisata dan Unsyiah siap membantu pemerintah untuk pelestarian gua tersebut," tegasnya.

Sementara itu Prof Hermann M Fritz dari The Georgia Institute of Technology Amerika Serikat mengungkapkan, kejadian tsunami tahun 2004 di Aceh berdampak luas ke berbagai negara. Namun, semua negara yang terkena dampak tidak menggunakan peringatan dini sehingga banyak korban jiwa yang berjatuhan.

"Maka sudah seharusnya kita belajar dari sejarah dan pengalaman dengan meningkatkan infrastruktur peringatan dini dan perangkat komunikasi untuk mengurangi resiko bencana," paparnya.

Ia berharap pemerintah dapat menjadikan pendidikan bencana sebagai kurikulum bagi sekolah-sekolah. Selain itu, perlu adanya upaya simulasi penanganan bencana secara rutin untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang proses evakuasi ketika bencana terjadi. [rus]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya