Potensi bisnis bubuk tulang dan kepala ikan mencapai keuntungan besar. Banyak produsen olahan perikanan Indonesia yang diperkirakan meraup untung, sehingga dipastikan akan meningkatkan kesejahteraan.
"Bisnis bubuk tulang ikan di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahunnya. Angka yang sangat fantastis, dan pasti bisa mensejahterahkan masyarakat pengolah perikanan bila mereka terdorong memanfaatkannya," ujar peneliti ilmu dan teknologi pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ahmad Faizal Fajar Sunarma dalam keterangannya, Selasa (1/8).
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki 70 persen wilayah perairan, di mana luas perairan berpotensi mendapatkan hasil perikanan melimpah. Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2015 mencatat, nilai produksi hasil perikanan mampu menembus angka 14, 79 juta ton. Pencapaian tersebut cukup besar, pasalnya Indonesia menempati urutan kedua setelah China dalam hal produksi ikan pada 2012.
"Nilai produksi tersebut diperoleh dari perikanan tangkap yaitu laut dan umum, serta produksi perikanan budidaya. Banyaknya jumlah produksi perikanan berpotensi menghasilkan produk samping perikanan," terang Fajar.
Menurutnya, terdapat 25 persen produk samping perikanan berupa tulang ikan yang belum dioptimalkan keberadaannya. Jika total hasil perikanan di Indonesia mampu diolah sekitar 7 juta ton per tahun maka akan ada 1,75 juta ton total produk samping berupa tulang ikan sebagai bahan produksi.
"Tulang ikan yang sudah dibersihkan dari sisa daging dan kotoran bisa diolah menjadi bubuk sebanyak 14,20 persen. Sehingga, dari asumsi total tulang ikan 1,75 juta ton per tahun maka akan menghasilkan 248.500 ton bubuk tulang ikan per tahun bisa diproduksi untuk berbagai macam produk kesehatan berkaitan dengan nilai kalsium," beber Fajar.
Saat ini, peluang pemanfaatan produk samping berupa tulang ikan sudah mulai dilaksanakan di beberapa negara. Misalnya Selandia Baru yang memiliki industri pengolah tulang ikan bernama Nutri Zing yang memproduksi tepung tulang ikan sebagai bahan baku utama.
Fajar menambahkan, saat ini harga suplemen kalsium yang bersumber dari bubuk tulang ikan per kemasan dibanderol dengan harga USD 15,0 per kilogram. Artinya, jika potensi tersebut bisa dikaji lebih serius maka peluang Indonesia mendapatkan keuntungan menjadi sangat besar.
Karena itu, peluang pengolahan tepung tulang ikan bisa menjadi industri baru yang kedepannya mampu menambah angka pendapatan negara sekaligus menambah sumber alternatif kalsium masyarakat Indonesia.
"Jika setiap tahunnya Indonesia bisa menghasilkan sebanyak 248.500 ton bubuk tulang ikan maka potensi ekonominya menjadi Rp 45 triliun. Ini angka fantastis bagi Indonesia dan masyarakat pengolah produk perikanan dalam negeri. Apalagi proses pengolahan bisa dilakukan secara sederhana," demikian Fajar.
[wah]