Syarif Abdullah Alkadrie/Net
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sudah lama digunakan untuk operasi pesawat berbadan lebar, seperti Boeing 777.
Sehingga, jika operasi pesawat pengangkut jemaah haji itu dijadikan penyebab kerusakan landasan pacu (runway) Halim pada Jumat (28/7) lalu, tidaklah tepat.
"Sebelum pesawat raja Arab Saudi, dulu kan embakarsi di sana, pesawat-pesawat haji itu dulu dari Halim, pesawat-pesawat tamu luar negeri lewat Halim. Jadi ya salah Boeing penyebabnya," tegas anggota Komisi V DPR, Syarif Abdullah Alkadrie kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (30/7).
Ia tidak sependapat jika izin operasi Boeing 777 dari Kementerian Perhubungan yang dipersoalkan. Justru menurutnya, kondisi bandara yang perlu diperbaiki.
"Sebelum Cengkareng (Bandara Internasional Soekarno Hatta) ada,
kan sudah Halim digunakan sampai sekarang kan tamu-tamu negara dari luar negeri lewatnya situ," katanya.
"Pesawat raja Arab Saudi, belum terlalu lama, datang.
Runaway aman-aman saja. Saya pikir kondisi runaway-nya, bukan masalah pesawatnya," politisi Nasdem itu, menambahkan.
Menurutnya, terpenting ke depan diperlukan pengawasan ketat di bandara itu demi keselamatan (savety).
"Syukur kejadian (Jumat) itu tidak terjadi apa-apa," ucapnya.
Namun sekali lagi Syarif menekankan, insiden runway tidak bisa dianggap kelalaian Kemenhub karena memberi izin operasi pesawat Boeing 777. Sebab fakta empirisnya ada bahwa bandara Halim sering digunakan untuk operasi pesawat-pesawat berukuran besar.
"Apa bedanya Boeing dengan pesawat-pesawat itu, malahan lebih besar pesawat raja Arab Saudi kemarin," cetusnya.
Justru ia melihat persoalan bandara Halim saat ini pada kepadatan. Selain untuk komersil, diketahui bandara Halim juga sebagai pangkalan militer, termasuk menyambut kedatangan tamu-tamu negara yang menggunakan pesawat khusus.
"Saya pernah 40 menit tidak turun (tetap di udara), menunggu giliran. Kemudian
runway juga tidak terlalu lebar, tapi paling tidak cukup dan kekuatannya sudah teruji," tukasnya.
[wid]