Berita

Boni Hargens/Net

Politik

Sekte Yehuwa Beda Dengan HTI, Jokowi Harus Tertibkan Boni Hargens!

RABU, 26 JULI 2017 | 20:15 WIB | LAPORAN:

Presiden Joko Widodo harus menertibkan barisan Relawan-nya yang malah menjadi provokator dan pembuat gaduh dalam urusan pembubaran sejumlah organisasi pasca diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) 2/2017 Tentang Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan.

Salah satu yang harus ditertibkan adalah Boni Hargens yang mengaku sebagai Relawan Jokowi. Saat ini dia tercatat juga sebagai anggota Komisaris Antara (Persero). Boni diduga sengaja membuat kegaduhan baru dan menjadi provokator, lantaran getol menyebut sebuah sekte, yakni Saksi Yehuwa sebagai ormas yang sama dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sehingga pantas dibubarkan. (Baca: Boni Hargens: Pemerintahan Jokowi Juga Harus Bubarkan Sekte Saksi Yehuwa!)
 
"Mengaku-ngaku sebagai Relawan Jokowi, tetapi sepak terjangnya kini malah bikin resah masyarakat dan asbun (asal bunyi). Dalam pernyataan-pernyataan persnya belakangan ini, terkait pembubaran sekte Saksi Yehuwa, Boni Hargens sudah malah jadi provokator dan sengaja mendorong kegaduhan di masyarakat. Karena itu, Pak Jokowi harus segera menertibkan Boni Hargens," terang Koordinator Paguyuban Jurnalis Bersatu, Jhon Roy P Siregar dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Rabu malam (26/7).
 

 
Selain tidak memahami konteks persoalan, Boni Hargens juga dianggap tidak memahami urutan tata cara penegakan hukum dan ketatanegaraan dalam mengatur berbagai persoalan mengenai sekte dan juga ormas. Padahal, di saat kondisi Indonesia seperti sekarang ini, seharusnya sekelas Boni Hargens tidak asal sembarangan bicara dan mendorong-dorong sekte lain untuk dibubarkan melalui Perppu yang baru diterbitkan oleh Pemerintahan Jokowi itu.
 
Perlu diketahui, posisi Saksi Yehuwa dengan HTI adalah sangat jauh berbeda. Dari bentuk organisasinya, aktivitas dan kegiatannya, serta jalur persoalannya pun tidak sama dengan HTI.
 
Karena itu, kata Jhon, penyelesaian persoalan yang ditimbulkan pun berbeda. HTI, oleh Pemerintahan Jokowi dianggap berbahaya karena merongrong kekuasaan Negara dan tidak mengakui Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi Negara Republik Indonesia, sehingga Pemerintah menganggap situasi saat ini sedang darurat konstitusi, dan mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
"Lah, kalau untuk Saksi Yehuwa kan berbeda. Apakah Saksi Yehuwa itu ormas? Apakah Saksi Yehuwa itu merongrong kedaulatan NKRI? Apakah mengganggu kekuasaan Negara? Apakah Saksi Yehuwa melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan mengancam akan meruntuhkan Negara Indonesia? Kan tidak,” tutur Jhon.
 
Sementara itu, Pendeta Harliman Pattianakota menyampaikan, Saksi Yehuwa atau yang juga dikenal sebagai Saksi Jehova itu sangat jelas berbeda dengan HTI. "Saksi Jehovah dulu dikenal sebagai sekte. Tetapi sikap yang menganggap ajaran tertentu sebagai sekte mulai ditinggalkan. Sebab kita tidak bisa berdiri sebagai hakim atas kelompok tertentu kemudian  di-cap sebagai sekte,” ujar pria yang akrab disapa Harley itu.
 
Eks aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) itu bilang, dahulu, kalau sudah di-cap sebagai sekte, maka darahnya pun dianggap halal untuk dihabisi. "Karena itu, istilah sekte, bidat, mulai ditinggalkan karena itu adalah istilah yang keras. Saksi Jehovah memang berbeda dengan kelompok mainstream seperti HKBP, GKP, GKI yang Lutheran dan Calvinis,” kata Harley.
 
Dijelaskan pria yang menjadi Pendeta di Gereja Kristen Pasundan (GKP) itu, ada pokok-pokok ajaran yang berbeda, yang dianut Saksi Yehuwa dengan ajaran kelompok mainstream. "Tetapi kita tidak perlu gusar dan cemas dengan itu. Yang perlu dilakukan adalah pembinaan umat secara baik supaya paham dengan keyakinannya. Bukan malah mendorong mengusir, mengutuk, atau bahkan membunuh loh,” tutur Harley.
 
Bagi Harley, hal yang diangkat Boni Hargens adalah ajaran Saksi Yehuwa yang berkaitan dengan relasi gereja dan negara. "Mereka memang melarang menghormat kepada bendera sebagai simbol negara, sebab bagi mereka hanya Tuhan yang harus dihormati. Tentu di sini ada implikasi hukum, yang membuka ruang perdebatan. Dan bisa saja Saksi Jehovah diajak untuk diskusi soal teologi hubungan gereja dengan negara,” ujar Harley.
 
Dan yang lebih penting lagi, lanjut dia, ajaran Saksi Yehuwa itu tidak dijadikan sebagai ideologi untuk melawan negara secara terbuka. "Apalagi, sampai melakukan pengeboman terhadap alat-alat dan simbol negara, itu tidak mereka lakukan, Sebab mereka tetap mengajarkan kasih dan damai. Inilah perbedaan Saksi Jehovah dengan HTI. HTI bisa menjadi ideologi politik dengan menghalalkan kekerasan. Jadi, jangan disamakan begitu saja Saksi Jehovah dengan HTI,” terang Harley.
 
Memang, kata dia, ada saja sikap orang Saksi Yehuwa yang dianggap meresahkan orang-orang Kristen lain. Hal itu dikarenakan, para Saksi Yehuw tidak malu-malu menawarkan keyakinannya. "Sikap berani Saksi Jehovah ini yang mesti ditransformasi, supaya mereka belajar menghargai keyakinan yang lain. Tetapi bagi mereka yang kuat dan paham keyakinannya, Saksi Jehovah ini tidak akan dipandang sebagai masalah besar. Ia hanya mencipta pojok diskusi iman yang tak pernah tuntas, yang bisa disikapi dengan argumentasi. Tidak dengan kekerasan,” pungkas Harliman Pattianakota. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya