Berita

Jazuli Juwaini/Net

Wawancara

WAWANCARA

Jazuli Juwaini: Kalau Presidential Threshold Merujuk Pemilu 2014, Berarti Ada Ketidakadilan

RABU, 26 JULI 2017 | 09:47 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah Undang-Undang Pemilu disahkan, perjuangan yang bisa dilakukan PKS hanya bisa mendukung penuh warga negara yang mengajukan uji ma­teri. PKS tak bisa mengajukan uji materiil lantaran posisinya termasuk sebagai pembahas da­lam proses pembahasan undang-undang tersebut. Berikut penu­turan Ketua Fraksi PKS DPR, Jazuli Juwaini terkait polemik Undang-Undang Pemilu;

Bagaimana sikap PKS set­elah Undang-Undang Pemilu disahkan?
Soal Undang-Undang Pemilu tentu kita sudah lihat bersama, enam fraksi mendukung presi­dential threshold 20-25 persen, dan empat fraksi tidak mendu­kung. Nah, Fraksi PKS termasuk yang empat ini.

Jadi itu sebabnya Fraksi PKS walk out?

Jadi itu sebabnya Fraksi PKS walk out?
Tidak, kemarin kami walk out karena melihat kalau yang divoting itu tidak konstitusional. Sebelumnya kan sudah disebut juga oleh MK, kami tidak mau bertanggung jawab atas voting itu makanya walk out. Tetapi tentu, ketika itu disahkan men­jadi undang-undang, karena sudah sah jadi mengikat. Tetapi kami tidak ikut bertanggung jawab, terutama soal presidential thereshold itu.

Selain inskonstitusional, ada alasan lain PKS menolak presidential threshold?
Ada, kami ingin ruang demokrasi ini semakin tahun, semakin bagus. Kami tidak ingin demokrasi terkooptasi dengan dibikinnya presidential threshold itu. Ada presidential threshold, artinya ada batasan. Padahal demokrasi itu harus­nya semua orang punya ruang. Memang harus diatur, tetapi tidak boleh orang belum apa-apa sudah terhalang oleh undang-undang. Paling fatal soal presidential threshold 20-25 persen, itu merujuknya dari mana? Padahal pilpres dan pileg dilakukan serentak.

Undang-Undang Pemilu me­nyatakan presidential thresh­old itu berpatokan pada hasil pemilu sebelumnya?
Kalau hanya merujuk hasil pemilu sebelumnya, berarti kita berlaku tidak adil kepada parpol - parpol yang baru disahkan, dan baru akan ikut Pemilu 2019 ini. Artinya, untuk apa partai itu disahkan kalau mereka su­dah digunting kewenangannya untuk mencalonkan. Berarti kan ada ketidakadilan. Padahal dalam dalam Pancasila itu ada sila keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lalu apa yang akan Fraksi PKS lakukan?
Kami mendorong dan men­dukung elemen masyarakat untuk mengajukan judicial re­view ke MK. Silahkan unsur masyarakat, lsm, atau siapapun yang memenuhi syarat menga­jukan judicial review ke MK. Hak yang diatur dalam peraturan perundang-undangan silakan ditempuh, manfaatkan dan guna­kan mekanisme yang ada.

Dari PKS tidak mengajukan gugatan?
Kalau kami di fraksi tidak pu­nya ruang untuk judicial review. Karena kami ini kan pelaku dan pembuat undang-undang. Aneh kalau kami ikut ajukan judicial review ke MK. Makanya kami mendorong dan mendukung nasyarakat yang mau melaku­kannya. Kami mendoakan, mendukung agar betul betul permasalahan ini diselesaikan secara konstitusional.

Tentu kalau judicial review sudah diputuskan, semua pihak harus menghormati apapun hasilnya, seperti kami meng­hormati mereka yang mendu­kung 20-25 persen presidential thereshold itu. Kami sudah menghormati, jadi kami juga minta dihormati kalau ada sikap dan posisi politik.

Berapa target PKS pada pemilu mendatang?
Sesuai yang dicanangkan Presiden PKS, 2019 kami da­pat dua digit, 12 persen sudah Alhamdulillah. Kami mohon doa dari bapak, ibu dan saudara, mudah-mudahan Allah SWTterus memberikan kekuatan kepada kami yang beranggotakan 40 ang­gota minus satu, jadi 39 anggota, istiqomah memperjuangkan ke­pentingan umat, rakyat. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:05

Membongkar Praktik Haram MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:00

Indonesia Sedang Hadapi Perang Sumber Daya

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34

Berantas Korupsi di BGN jadi Bukti Prabowo Jalankan Amanat Reformasi 98

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:28

Warga Tuntut Pengurus P3SRS Apartemen Taman Rasuna Diberhentikan

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:07

Pemuda Katolik Dukung Kejagung Bersih-bersih BGN

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:40

Ketua SC Muktamar X PPP Ngaku Borong Kamar Lantai 10 untuk Persidangan

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:17

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Dadan Hindayana Cs Terlalu Berani Korupsi!

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:02

Badko HMI Sultra Laporkan Dua Perusahaan Tambang ke Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 23:50

Selengkapnya