Berita

Hanif Dhakiri/Net

Politik

Relawan Jokowi-JK Curiga Hanif Dhakiri Mau Rusak Citra Jokowi Di Mata TKI

SELASA, 25 JULI 2017 | 01:30 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kebijakan Menteri Tenaga Kerja M. Hanif Dhakiri yang mengalihkan jaminan sosial tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri terindikasi untuk merusak nama Presiden Joko Widodo di mata para TKI yang bekerja di luar negeri.

Demikian disampaikan Koordinator Koalisi Relawan Bicara Jokowi-JK, Amirullah Hidayat, Senin (24/7).

Menurut Amir, hal ini diketahui setelah mendapat undangan dari Aliansi Masyarakat Nusantara (AMN) yang akan melaksanakan dialog tentang kebijakan tersebut pada tanggal 8 Juli 2017 yang meminta Koalisi Relawan Berbicara Jokowi-JK menjadi salah satu pemateri acara tersebut.


Amir menjelaskan, dalam Pilpres 2014 Jokowi mendapat suara terbanyak dari TKI yang ada di luar negeri. Namun dengan kebijakan Menteri Hanif ini terindikasi kuat untuk menghancurkan nama pemerintahan Jokowi di mata TKI karena jaminan yang didapat oleh TKI dari BPJS Ketenagakerajaan tidak sesuai dengan yang didapatkan saat ditangani asuransi.

Hal ini, lanjut Amir, dapat dibuktikan bahwa selama ini TKI mendapatkan 13 jaminan sosial. Namun yang ditanggung BPJS hanya sembilan jaminan sosial, yang itu artinya TKI mengalami kerugian jaminan sosial. Apalagi yang dihilangkan yaitu jaminan mendapatkan biaya bantuan hukum, jaminan resiko upah tidak dibayar, pemulangan TKI yang bermasalah dan pembatalan kontrak. Padahal inilah masalah yang sering dialami TKI bekerja di luar negeri.

"Oleh BPJS, risiko PHK bagi TKI dijamin dalam JHT, namun dengan membayar premi tambahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang dibayar oleh TKI melalui asuransi saat ini. Dari sembilan risiko yang dijamin BPJS pun masih berpotensi terjadi dispute karena tidak jelas aturannya. Dengan jaminan yang ditawarkan oleh BPJS, jika melihat statistik kasus yang dialami TKI sejak 2013-2017, maka berpotensi lebih dari 20.000 kasus TKI menjadi tidak terlindungi," kata Amir, yang juga Ketua Harian Relawan Matahari Indonesia Jokowi-JK.

Menurut Amir, premi asuransi dibayarkan oleh TKI bukan diambil dari APBN, dan sudah seharusnya TKI diberikan perlindungan yang optimal, bukannya malah dikurangi. Karena itu jelas kebijakan Hanif ini dinilai Amir sebagai upaya menghancurkan Presiden Jokowi dari dalam.

"Apalagi Hanif tanpa membuat juklak dan juknis yang baik sudah ingin melakukan launching program tersebut tanggal 30 Juli 2017 di Kabupaten Tulungagung," ungkapnya.

"Oleh karena itu kami meminta Presiden Jokowi untuk membatalkan launching program ini karena kuat diduga untuk merusak citra Presiden di mata TKI yang bekerja diluar negeri.  Padahal jumlah TKI di luar negeri itu sampai 2,7 juta jiwa lebih. Serta kita juga meminta Presiden Jokowi untuk mencopot Hanif karena terduga kuat tidak loyal kepada Presiden," demikian Amir menambahkan. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya