Berita

Anton Apriyono/Net

Bisnis

Keserempet Pemalsuan Beras, Begini Penjelasan Anton Priyono

SABTU, 22 JULI 2017 | 21:29 WIB | LAPORAN:

Komisaris Utama PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS), Anton Priyono angkat bicara soal kasus dugaan mengoplos beras subsidi menjadi beras premium, di Gudang beras Bekasi, baru-baru ini.

Menurut dia, tuduhan tersebut merupakan fitnah besar. Lagian, varietas IR 64 itu, varietas lama yang sudah digantikan dengan varietas yang lebih baru yaitu Ciherang, kemudian diganti lagi dengan Inpari,

"Jadi di lapangan IR 64 itu sudah tidak banyak lagi. Selain itu, tidak ada yang namanya beras IR 64 yg disubsidi, ini sebuah kebohongan publik yg luar biasa. Yang ada adalah beras raskin, subsidi bukan pada berasnya tapi pada pembeliannya, beras raskin tidak dijual bebas, hanya utk konsumen miskin," terang dia dalam surat elektronik yang diterima redaksi, Sabtu (22/7).


Mantan Menteri Pertanian era SBY ini menjelaskan, dalam dunia perdagangan, ada beberapa jenis beras, yakni medium dan beras premium, SNI untuk kualitas beras juga ada, yang diproduksi TPS sudah sesuai SNI untuk kualitas atas.

"Kalau dibilang negara dirugikan, dirugikan dimananya? Apalagi sampai bilang ratusan trilyun, lha wong omzet beras TPS saja hanya Rp 4 T per tahun, lagi-lagi kapolri melakukan kebohongan publik. Apa gak takut azab akherat ya?" terang dia.

Mengenai tuduhan menjual diatas HET, juga disoroti Anton. Tuduhan tersebut tidak bijak lantaran beberapa hal. Pertama, SK mendag mengenai HET beras baru ditandatangani dan berlaku 18 Juli, sementara, tanggal 20 Juli sudah diterapkan ke PT IBU, tidak kepada yang lain dan tidak diberikan waktu untuk melakukan penyesuaian.

"HET 9000 itu terlalu rendah karena harga rata-rata beras saja sudah diatas Rp 10 ribu, perlu dievaluasi lagi, selain itu tetap harus dibedakan antara beras medium dan beras premium karena kualitasnya berbeda," jelasnya.

Mengenai kandungan gizi, terang Anton, ada ketidakpahaman yang membedakan antara kandungan gizi dengan angka kecukupan gizi.

"Satu lagi, pemberitaan menyimpan 3 juta ton beras atau membeli beras 3 juta ton beras, itu jelas ngawur karena kapasitas terpasang seluruh pabrik TPS hanya 800 ribu ton," tandasnya. [sam]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya