Berita

Ahmad Doli Kurnia/net

Politik

Politikus Golkar: Pansus KPK Mewakili Kepentingan Orang Tertentu

KAMIS, 13 JULI 2017 | 19:58 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Panitia Khusus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di DPR RI terkesan dipaksakan dan berlatar sangat politis. Motif pembentukannya tidak mewakili kepentingan umum.

Pernyataan itu dilontarkan politisi muda Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, dalam acara "Urun Rembug dan Pernyataan Sikap Bersama" di Hotel Puri Denpasar, Kuningan, Jakarta, Kamis (13/7). Dalam acara itu hadir pula beberapa politikus muda dari partai-partai lain, seperti Mardani Ali Sera (PKS) dan Hinca Pandjaitan (Demokrat).

"Saya yang mewakili dari Partai Golkar, walaupun secara resmi Partai Golkar mengambil inisiatif angket KPK, saya dan teman- teman menyatakan lahirnya Pansus ini penuh dengan motif yang tidak mewakili kepentingan umum, atau bisa disebut mewakili kepentingan perorangan," jelas Doli dalam konferensi pers.  


Dia menilai, kerja Pansus sangat tendensius, bahkan terkesan hendak menutupi proses hukum kasus tertentu. Yang paling terasa adalah mencoba mengaburkan penegakan hukum dalam perkara korupsi E-KTP.

"Pertama, munculnya tuduhan terhadap Ibu Miriam Haryani (politisi Hanura di DPR), dan yang juga terindikasi terlibat adalah ketua Pansus (Agun Gunandjar) karena disebut-sebut dalam kasus E-KTP," terangnya.

Dia tidak percaya Pansus dibentuk untuk menguatkan KPK. Alasannya, ada banyak momentum untuk menggugat kerja KPK di kasus-kasus lain, seperti kasus korupsi reklamasi pantai Jakarta.

"Kenapa tidak pada saat Aguan dicabut cekalnya? Kenapa tidak pada saat Sunny Tanuwijaya dicabut cekalnya? Momentum itu bisa digunakan untuk menguatkan KPK. Kenapa pada saat E-KTP ini muncul?" lontar Doli.

Doli mengklaim, para politikus muda lintas partai yang menolak Pansus KPK bersikap objektif. Mereka memandang DPR dan KPK sama-sama lembaga yang dilindungi konstitusi.  

"KPK juga tidak boleh tebang pilih. Hadirnya kami di sini untuk memprofesionalkan kedua lembaga, KPK dan DPR," tegasnya. [ald]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

27 Ton Bantuan Korban Gempa NTT Diberangkatkan dari Lanud Halim

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:57

Merdeka dan Menderita

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:23

Legislator PDIP Dorong Penguatan SKK Migas Lewat Revisi UU 22/2001

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:59

TelkomGroup Tancap Gas Perbaiki Layanan Pascagempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:32

Malam Renungan Suci

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:17

DOB Bekasi Utara Sangat Penting, Ini Alasannya

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:45

Jebolan Akmil 2003 Ini Siap Komandani Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:23

Koperasi dan Cacat Epistemologis Pemahaman

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:47

Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler di Jakut

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20

Buku ‘Transformasi Tata Kelola Perikanan Indonesia’ Jawab Masalah Ekonomi Biru hingga PIT

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:55

Selengkapnya