Berita

Sri Mulyani/net

Bisnis

Jokowinomics Tidak Akan Jalan Dengan Ekonom Yang Gemar Utang

RABU, 12 JULI 2017 | 13:22 WIB | LAPORAN:

Di tengah-tengah kencangnya isu reshuffle Kabinet yang sedang berhembus, disebutkan bahwa Presiden Joko widodo memutuskan untuk tetap memasang Sri Mulyani di dalam kabinet. Bahkan beberapa pihak menyebut Sri akan memegang jabatan rangkap sebagai Menteri Keuangan dan sekaligus Menteri Koordinator Perekonomian.

Padahal belum lama ini Sri Mulyani telah menelanjangi berapa neolib dirinya, saat kebijakannya mengenakan pajak 10 persen bagi petani tebu menjadi polemik publik. Bahkan Selasa (11/7) kemarin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita telah secara resmi melayangkan surat protes atas kebijakan Sri tersebut.

Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Arief Hidayatullah mengungkapkan kekecewaannya atas berkembangnya kabar bertahannya Sri Mulyani di Kabinet Jokowi.


"Kami ragu Jokowinomics akan dapat berjalan mulus dalam 2 tahun sisa jabatan Presiden bila nahkodanya adalah ekonom yang hobi utang, namun pertumbuhan ekonomi biasa saja," kata Arief kepada wartawan, Rabu (12/7).

Menurut Arief, yang juga mantan Sekjen LMND ini, contoh dari ekonom model tersebut adalah Sri Mulyani yg merupakan keturunan Berkeley Mafia. Seperti diketahui Berkeley Mafia adalah geng yg telah menjerumuskan ekonomi Indonesia dalam cengkeraman modal asing selama 32 tahun Orba.

Arief mencatat selama Sri Mulyani menjabat tahun 2006-2010, dirinya telah menimbun surat utang luar negeri pemerintah sebanyak Rp 476 triliun (atau sekitar USD 40 miliar saat itu). Namun dengan besarnya utang semasa 2006-2010 tersebut juga, Indonesia hanya menikmati growth di kisaran 4 hingga 6 persen.

Dengan jumlah surat utang yang dibuat Sri Mulyani sebesar tersebut dan dengan selisih suku bunga sebesar 2 persen di atas Filipina, Vietnam, dan Thailand,maka menurut perhitungan Arief Hidayatullah, akibatnya dengan asumsinya surat utang bertenor 10 tahun, Indonesia kini harus membayar selisih tambahan bunga utang (di atas ketiga negara tersebut) sebesar USD 8 miliar.

Padahal sebenarnya suku bunga surat utang Indonesia dapat lebih murah 1 hingga 2 persen di bawah ketiga negara tetangga tersebut. Ini terbukti dapat dilakukan di era Menteri Keuangan Agus Martowadoyo.

"Jokowinomics akan sukses bila dijalankan oleh ekonom yang mampu kurangi utang luar negeri namun mampu angkat tinggi pertumbuhan ekonomi," pungkas Arief.

Seperti diketahui, kejadian tersebut pernah terjadi di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mampu kurangi utang luar negeri hingga USD 3,5 miliar (setara Rp 45 trilun) namun pertumbuhan ekonomi terangkat dari minus (-) 5 persen ke positif 4 persen.[san]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya