Berita

Para pemimpin G20/ The New York Times

Dunia

Trump Terasing Di Forum G20

SABTU, 08 JULI 2017 | 10:36 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Donald Trump terus menjadi bulan-bulanan kritik di dalam negerinya. Termasuk dari media massa Amerika Serikat yang menyorot kehadirannya di KTT G20 di Hamburg, Jerman.

Situs The New York Times, memberi judul pada salah satu artikelnya: "Once Dominant, the United States Finds Itself Isolated at G-20". Media terkemuka ini berpendapat, baru tahun ini AS merasa terisolasi dalam forum G20.

Selama bertahun-tahun, AS adalah kekuatan dominan dalam penetapan agenda tahunan pertemuan para pemimpin ekonomi terbesar dunia itu. Namun pada hari Jumat (7/7) ketika KTT dibuka, AS menemukan dirinya terisolasi.


"Ketika Presiden Trump bertemu dengan 19 pemimpin lainnya dalam konferensi Kelompok 20, dia menemukan bahwa Amerika Serikat terisolasi dalam segala hal, mulai dari perdagangan hingga perubahan iklim," tulis The New York Times.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, selaku tuan rumah juga menyindir AS ketika membuka pertemuan itu. Ia mengakui ada perbedaan antara AS dan 19 negara lainnya.

"Kompromi hanya bisa ditemukan jika kita mengakomodasi pandangan masing-masing. Kita juga bisa mengatakan, kita berbeda," kata Merkel.

Merkel juga menegaskan bahwa sebagian besar negara mendukung Kesepakatan Paris 2015 mengenai perubahan iklim, sementara Trump telah meninggalkannya.

"Ini akan sangat menarik untuk melihat bagaimana kita merumuskan komunike besok (hari ini) dan memperjelas bahwa, tentu saja, ada beberapa pendapat berbeda di bidang ini karena Amerika Serikat dengan menyesal ingin menarik diri dari perjanjian tersebut," singgungnya.

Di sisi lain, Trump digambarkan seolah menikmati keterasingannya.

Baginya, momen paling penting dalam arena G20 adalah pertemuan perdananya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Trump juga dianggap memberikan rasa hormat kepada Putin.

Jika para pemimpin Amerika sebelumnya melihat kekuatan mereka sebagai kekuatan baik hati yang bermaksud menyebarkan kemakmuran melalui pasar terbuka dan kerja sama multilateral, Trump dinilai telah menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis, seorang unilateralis dan proteksionis, yang ingin menyelamatkan AS. [ald]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

27 Ton Bantuan Korban Gempa NTT Diberangkatkan dari Lanud Halim

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:57

Merdeka dan Menderita

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:23

Legislator PDIP Dorong Penguatan SKK Migas Lewat Revisi UU 22/2001

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:59

TelkomGroup Tancap Gas Perbaiki Layanan Pascagempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:32

Malam Renungan Suci

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:17

DOB Bekasi Utara Sangat Penting, Ini Alasannya

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:45

Jebolan Akmil 2003 Ini Siap Komandani Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:23

Koperasi dan Cacat Epistemologis Pemahaman

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:47

Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler di Jakut

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20

Buku ‘Transformasi Tata Kelola Perikanan Indonesia’ Jawab Masalah Ekonomi Biru hingga PIT

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:55

Selengkapnya