PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil manajemen PT Modern Internasional Tbk (MDRN) selaku induk usaha PT Modern Sevel Indonesia (MSI), kemarin. Pemanggilan itu untuk mengorek informasi soal penutupan seluruh gerai 7-Eleven (Sevel).
Manajemen PT Modern Internasional datang ke kantor BEI pukul 14.30 WIB. RomÂbongan dipimpin Direktur PT Modern Internasional Donny Susanto. Donny datang bersama tiga orang perwakilan. SesamÂpainya di kantor BEI, mereka melakukan pertemuan dengan Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat. Pertemuan dilakukan digelar tertutup.
Pasca-pertemuan sekitar satu jam itu, manajemen PT Modern Internasional masih bungkam dan irit komen soal hasil perÂtemuannya. Begitu juga, saat ditanya mengenai keberlanjutan bisnis perusahaan pasca-ditutupÂnya bisnis Sevel.
"Masalah keterbukaan inforÂmasi. Nanti akan kami comÂment," tambah dia.
Donny mengatakan, pihak perseroan tidak dapat memÂberikan banyak penjelasan. Dalam waktu dekat, kata dia, perusahaan akan memberikan penjelasan. "No comment dalam sementara, kita akan undang daÂlam waktu setempat," ujarnya.
Samsul mengatakan, dalam pertemuan tersebut, pihak PT Modern Internasional menÂjelaskan mengenai penutupan Sevel. Perseroan dijadwalkan untuk menggelar public exÂpose terkait kondisi tersebut. "Mereka akan public expose secepatnya, di situ saja ditanÂyain," kata Samsul.
Samsul mengungkapkan manajemen Modern InternaÂtional menyatakan salah satu penyebab mereka tutup gerai adalah biaya operasional, biaya sewa, dan infrastruktur dan sarana. "Sebagian besar utang, kalau dari sisi bisnis sih bagus bisnisnya, mereknya juga cukup kuat," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, manaÂjemen Sevel mengungkapkan alasan lain penghambat usaha toko ritel yang merupakan langÂganan anak muda tersebut. Salah satunya adalah regulasi larangan menjual minuman beralkohol (minol).
"Mereka cerita (minol), cuma itu berdampak minor saja, ya memang langsung anjlok. Tapi mereka nyebutin itu cuma berÂpengaruh nggak terlalu besar," ujar Samsul.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, tutupnya sevel per 30 Juni 2017 bukan menÂjadi tanda bahwa ekonomi InÂdonesia sangat buruk atau bisnis usaha di sektor ritel tengah lesu. Menurutnya, keputusan Modern menutup seluruh gerainya di InÂdonesia lebih dikarenakan bisnis model yang diterapkannya kalah bersaing dengan ritel lain.
"Ekonomi dunia sedang memÂbaik walaupun tidak besar sekali, oleh karena itu jangan terlalu risau. Mungkin bisnis mereka modelnya enggak sesuai denÂgan bisnis model ritel," kata Darmin.
Darmin menuturkan, upaya pemerintah menjaga perekonoÂmian Indonesia dengan melakuÂkan beberapa upaya, salah saÂtunya dengan menjaga kinerja ekspor dan impor Indonesia. Dengan kinerja ekspor dan imÂpor yang baik, maka daya beli masyarakat Indonesia juga akan mengalami perbaikan.
Darmin menyebutkan, pasca-anjloknya harga komoditas membuat kinerja ekspor IndoÂnesia mengalami penurunan. Namun, sejak awal tahun 2017 kinerja ekspor dan impor telah mengalami perbaikan meskipun dampaknya tidak bisa langsung terasa.
Sebelumnya, Darmin juga membantah, penutupan seÂmua gerai Sevel bukan karena dampak dari pelarangan penÂjualan minol. "Jangan dihubungÂkan dengan minol, itu sangat keÂcil sekali," kata Darmin. ***