Berita

Hary Tanoe/net

Politik

Membela Hary Tanoe

KAMIS, 22 JUNI 2017 | 22:29 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BARU-BARU ini, Hary Tanoe (陳明立) dijerat kasus. Katanya dia ngancem Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.


Via Whatsapp, Hary Tanoe menulis: 

"Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan."

Saya heran. Short messege kaya begini kok dibilang ngancem. Terkesan, maksa banget.

Menurut Ahli Bahasa Rahayu Surtiati Hidayat ya itu ngancem. Karena ada kata "...catat kata-kata saya...". Tapi Kriminolog Universitas Indonesia Ferdinand Andi Lolo menyatakan sms itu hanya tidak etis. Belum cukup masuk kategori pidana. Tim pembela Hary Tanoe bilang substansi SMS itu bukan ancaman. 

Ada yang aneh dalam kasus ini. Jaksa Agung Prasetyo langsung "menetapkan" Hary Tanoe sebagai "tersangka". Sekalipun polisi belum mengadakan penyelidikan. 

Ada yang aneh dalam kasus ini. Jaksa Agung Prasetyo langsung "menetapkan" Hary Tanoe sebagai "tersangka". Sekalipun polisi belum mengadakan penyelidikan. 

Publik tidak bereaksi. Tokoh-tokoh nasional diam. Saya berasumsi ada beberapa alasan. 

Salah satunya, karena Hary Tanoe sama kaya Ahok. Tionghoa dan Kristen. Ahok's effect bikin segelintir orang takut disebut "Antek China". Hary Tanoe menderita apa yang dikatakan James Baldwin sebagai “burden of representation.”

Ada kasak-kusuk yang curiga Hary Tanoe dikriminalisasi. Sebagai serangan balas dendam. Di Pilgub DKI, Hary Tanoe terbuka pro Anies Sandi. Saya kira, Hary Tanoe punya peran menangkan Anies Sandi. Sekecil apa pun peran itu, dia mesti diapresiasi. 

Saya ngga kenal Hary Tanoe. Hanya pernah sekali ketemu di rumah Pa Prabowo. Di Jalan Kertanegara. Itu pun tidak sempat ngobrol. Sebagian orang bilang dia sombong. Saya tidak tau soal itu. Bagi saya, dia biasa-biasa saja. 

Saat gelombang serangan kepada Ahok sedang tinggi-tingginya, Hary Tanoe kena side effect. 

Dia diserang kubu pro dan kontra Ahok. Hary Tanoe jadi target cyberbully. Blunder kostum berpeci hitam di pesantren dijadikan meim negatif. Ambisinya jadi Wapres atau Presiden bikin ngilu. Sukses di arena bisnis, bikin Hary Tanoe jadi hate-object Korps Penjilat Cendana (KPC). Hary Tanoe didaulat Majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor 29 di Indonesia tahun 2016. Kekayaanya capai $ 1.15 Miliar. His Business Empire meliputi sektor telekomunikasi, televisi, radio, newspaper, iklan, properti, musik, investment, online site dan talent agency.  

Saya kira, Hary Tanoe mesti sangat berhati-hati dalam manuver politiknya. Banyak orang tidak begitu suka. Plus trauma pasca Ahok berkuasa. 

Sebagai sesama pendukung Anies-Sandi, saya curiga ada skenario mengkriminalisasi Hary Tanoe. 

Jaksa Agung Prasetyo adalah Kader Nasdem. Orangnya Surya Paloh. Dulu, ada gosip seputar adu pengaruh antara Hary Tanoe vs Surya Paloh di Nasdem. Salah satu partai pengusung Ahok ya Nasdem. 

Pasca keluar dari Nasdem, Hary Tanoe gabung dengan Jenderal Wiranto di Hanura. Mereka split saat Wiranto dukung Jokowi. Hary Tanoe keluar dari Hanura karena Pro Prabowo. Relasi Hary Tanoe dan Pa Prabowo berlanjut di Pilkada DKI kemarin. Dari sini, saya kira Hary Tanoe punya pendirian dan konsisten. Dia ngga semerta-merta sama kaya Ahok. Just because he shares the same Chineness. Kita mesti adil.[***]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya