Berita

Bisnis

KPPU Harus Tegas Selesaikan kasus AMDK!

SELASA, 20 JUNI 2017 | 21:37 WIB | LAPORAN:

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harus tegas dalam menyelesaikan dugaan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam industri air minum dalam kemasan (AMDK). Soalnya, praktik ini tak hanya merugikan konsumen, melainkan konsumen.

Begitu dikatakan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Selasa (20/6).

"Dalam UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan konsumen memiliki hal untuk memilih produk atau jasa sesuai kebutuhan mereka. Dengan adanya monopoli itu maka hak konsumen itu hilang," sambungnya.

Tulus menegaskan, praktik monopoli dengan jalan meminta pedagang untuk tidak menjual produk sejenis dari produsen lain dengan ancaman menurunkan status dan pengurangan insentif melanggar UU 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

"Adanya laporan dan temuan bukti praktik seperti itu menunjukkan masih banyak produsen yang berupaya mendominasi pasar dengan cara tidak sehat. Itu menghancurkan ruh UU 5/1999," jelasnya.

Sebelumnya, pada Selasa 9 Mei 2017, KPPU menggelar Sidang Perdana Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 22/KPPU-I/2016 tentang Dugaan Pelanggaran Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang dilakukan oleh PT Tirta Investama dan PT Balina Agung Perkasa dalam Produk Air Minum dalam Kemasaan Air Mineral.

Perkara ini merupakan perkara inisiatif KPPU mengenai strategi pemasaran AMDK Air Mineral yang dilakukan oleh pihak terlapor.

Pengamat ekonomi Aviliani mengungkapkan hal senada. Kata dia, ketika KPPU menggiring kedua belah pihak yang bertikai ke persidangan karena adanya laporan kasus monopoli. "Banyak pihak seolah kebakaran jenggot dan menuduh gegabah atas kinerja KPPU melalui opini di media,” sindir Aviliani.

"Ini berbanding terbalik dengan KPPU yang tentunya tidak sembarangan menangani kasus-kasus terkait persaingan usaha karena berdasarkan bukti dan penyelidikan,” jelasnya.

Aviliani merasa, kasus dugaan monopoli produsen merek Aqua, yang merugikan PT Tirta Fresindo Jaya selaku produsen Le Minerale, kinerja KPPU layak diapreasiasi. KPPU sudah mengantongi lebih dari dua alat bukti untuk menggelar sidang, yang pertama kalinya digelar pada Selasa (9/5). "Kalaupun ada pihak yang mengkritik bahwa penyelidikan KPPU itu janggal, apakah ada parameternya? Toh dalam kinerjanya, KPPU tidak asal menggelar sidang,” tegasnya.

Aviliani menerangkan, dalam menangani penyelidikan kasus monooli Aqua, KPPU pastinya sudah berupaya keras tidak gegabah dalam bertindak. Tim investigatornya harus benar-benar bisa menunjukkan bukti-bukti pelanggaran di depan sidang, seperti yang telah disangkakan.

"Jika dalam persidangan bahwa PT Tirta Investama selaku produsen Aqua menyalahi etika dalam persaingan usaha, itu sudah jelas tidak benar. Apalagi kalau pihak KPPU sudah menemukan buktinya dan bisa menyeret pihak Terlapor I dan Terlapor II ke meja sidang,” papar Aviliani.

Dia menambahkan, jika terbukti dalam persidangan ternyata PT Tirta Investama melanggar etika persaingan usaha, itu artinya mereka sudah mengekang kebebasan berbisnis para pedagang, yang sejatinya berhak mencari nafkah dengan menjual produk beraneka macam, selama produk yang dijualnya aman untuk konsumen.

"Sesuai UU No.5 Tahun 1999, monopoli tidak dibenarkan. Apabila PT Tirta Investama menggulirkan cara seperti itu di arena industri retail, berarti mereka sudah mencederai hak berjualan para pedagang dan menyalahi persaingan usaha,” demikian Aviliani. [sam]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya