Berita

Herman Khaeron

Bisnis

Waspadai Pergeseran Lokasi Konsumsi Selama Masa Mudik

SELASA, 20 JUNI 2017 | 03:44 WIB | LAPORAN:

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengingatkan Pemerintah‎ untuk mewaspadai pergeseran konsumsi dan terganggunya distribusi pangan selama masa mudik Lebaran. Jika tidak diantisipasi, walaupun stok pangan cukup, tetap akan terjadi kenaikan harga.

"Di masa mudik, itu ada pergeseran konsumsi dari kota ke daerah mudik. Biasanya, suplai ke daerah mudik juga terbatas. Itu yang mengakibatkan kenaikan. Jadi, ini harus diperhatikan dan diwaspadai," ucap politisi Demokrat ini di Gedung DPR, kemarin.

Kata Herman, Pemerintah tidak boleh berpuas diri hanya dengan pasokan yang cukup. Sebab, pasokan yang cukup tidak akan berguna apa-apa jika pangan tersebut tidak sampai ‎kepada tangan konsumen.


Selain itu, kata Herman, di masa mudik Lebaran, banyak pelaku usaha di pasar meliburkan diri. Sebagian dari mereka ikut pulang kampung. Kondisi ini juga bisa menyebabkan k‎elangkaan barang di pasar, dan ujungnya menimbulkan kenaikan harga.

"Ini juga harus dipikirkan. Siapa yang mengganti para pelaku usaha itu?" ucapnya.

Untuk mengatasi semua itu, Herman menyarankan Pemerintah memberi penugasan ke perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pangan seperti Bulog, Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), Pertani, dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Perusahaan-perusahaan BUMN ini harus diturun ke lapangan untuk menyediakan dan mendistribusikan barang pangan selama Lebaran.

‎Agar kerjanya efektif, kata Herman, tugas BUMN-BUMN tersebut bisa dibagi. Misalnya, Bulog bertanggung jawab atas pangan utama seperti beras dan gula. Kemudian, Pertani menjaga komoditas bawang. Sedangkan RNI dan PPI menjaga kebutuhan pangan strategis.

‎"Kalau dibagi seperti itu, celah permainan spekulan bisa ditutup oleh negara. Itulah yang disebut negara hadir di pasar. Jadi, negara ada. Bukan membiarkan masyarakat sendirian melawan spekulan," jelas politisi asal Cirebon ini.

Agar penugasan sukses, Pemerintah juga harus menyediakan anggarannya yang memadai. Sebab, jika memakai dana perusahaan, akan sulit menormalkan harga, karena mereka akan terbebani pajak dan bunga.

"Penugasan itu jangan pakai dana komersial, tapi harus pakai APBN. Sebab, kalau pakai dana komersial, ada pajak dan bunga yang mengikuti. Kalau pakai APBN kan pajaknya bisa dihilangkan dan bunga secara otomatis tidak ada. Jadi, tiap tahun harus ada dana cadangan yang cukup," tandasnya.  [zul]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya