ASEAN Young Leaders Forum (AYLF) Indonesia turut merespon krisis yang terjadi di Timur Tengah. AYLF Indonesia menyelenggarakan Diskusi Kepemudaan Nasional dengan tema "Krisis Qatar: Masa Depan Timur Tengah dan Transformasi Peta Geopolitik Global" di Auditorium MA Al-Islamiyah PUI, Jakarta Selatan, awal pekan lalu.
Diskusi itu menghadirkan dua pembicara nasional yaitu pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi dan pengamat politik internasional Haryo Setyoko. Diskusi dimoderatori oleh Rangga Kusumo selaku Ketua Bidang Politik AYLF Indonesia.
Yon Machmudi menilai bahwa Qatar merupakan negara kecil yang memiliki sumber daya alam kemudian berani untuk mengambil sikap berbeda dengan negara Teluk lainnya.
"Qatar memiliki model politik terbuka yang berbeda dengan negara Teluk lainnya. Hal tersebut yang membuat Qatar memiliki kedekatan dengan beberapa kelompok oposisi seperti Ikhwanul Muslimin dan Hamas. Sikap itu yang tidak disukai oleh negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi dan Mesir," ungkap Alumnus Australian National University tersebut.
"Di Timur Tengah, Arab Saudi itu bisa diibaratkan harimau, sedangkan Qatar ini kupu-kupu cantik yang menarik perhatian dan sulit untuk ditangkap," ujar Yon Machmudi menambahkan.
Kemudian Haryo Setyoko menyebutkan bahwa pemutusan hubungan diplomatik negara Teluk dengan Qatar tidak hanya bisa dinilai dari permukaan saja. Terdapat tiga level konflik yang menjadi pra kondisi munculnya krisis ini.
Pertama, stigma terorisme dimunculkan kembali dengan serangkaian teror di berbagai negara seperti Manchester, Marawi, Kampung Melayu, dan London.
"Qatar sebagai negara yang menampung dan punya kedekatan dengan kelompok tertuduh teroris akhirnya menjadi kambing hitam," ungkap Haryo Setyoko.
Kedua, kompetisi harga minyak yang semakin menurun. Arab Saudi, Oman, Bahrain sebagai produsen minyak terbesar mulai terancam akibat harga minyak dolar AS per barel semakin menurun.
"Di sisi lain, Qatar memiliki sumber daya gas yang tidak dimiliki negara Teluk lainnya dan berpotensi untuk mendekat ke Iran dan Rusia yang juga memiliki gas," lanjut Haryo Setyoko, alumnus National University of Singapore itu.
Ketiga, nilai tukar dolar AS akan terancam, jika Qatar mampu mengembangkan produksi gas dengan Iran dan Rusia, karena transaksi yang digunakan tidak akan memilih dalar AS lagi.
"Kepentingan Amerika Serikat dalam krisis Qatar ini pasti besar, karena berkaitan dengan kepentingan ekonomi, yaitu dolar AS yang terancam," pungkas Haryo Setyoko.
[rus]