Berita

Foto/Net

Dunia

Pengamat: Arab Saudi Iibarat Harimau Sedangkan Qatar Bak Kupu-kupu Cantik

JUMAT, 16 JUNI 2017 | 01:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

ASEAN Young Leaders Forum (AYLF) Indonesia turut merespon krisis yang terjadi di Timur Tengah. AYLF Indonesia menyelenggarakan Diskusi Kepemudaan Nasional dengan tema "Krisis Qatar: Masa Depan Timur Tengah dan Transformasi Peta Geopolitik Global" di Auditorium MA Al-Islamiyah PUI, Jakarta Selatan, awal pekan lalu.

Diskusi itu menghadirkan dua pembicara nasional yaitu pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi dan pengamat politik internasional Haryo Setyoko. Diskusi dimoderatori oleh Rangga Kusumo selaku Ketua Bidang Politik AYLF Indonesia.

Yon Machmudi menilai bahwa Qatar merupakan negara kecil yang memiliki sumber daya alam kemudian berani untuk mengambil sikap berbeda dengan negara Teluk lainnya.


"Qatar memiliki model politik terbuka yang berbeda dengan negara Teluk lainnya. Hal tersebut yang membuat Qatar memiliki kedekatan dengan beberapa kelompok oposisi seperti Ikhwanul Muslimin dan Hamas. Sikap itu yang tidak disukai oleh negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi dan Mesir," ungkap Alumnus Australian National University tersebut.

"Di Timur Tengah, Arab Saudi itu bisa diibaratkan harimau, sedangkan Qatar ini kupu-kupu cantik yang menarik perhatian dan sulit untuk ditangkap," ujar Yon Machmudi menambahkan.

Kemudian Haryo Setyoko menyebutkan bahwa pemutusan hubungan diplomatik negara Teluk dengan Qatar tidak hanya bisa dinilai dari permukaan saja. Terdapat tiga level konflik yang menjadi pra kondisi munculnya krisis ini.

Pertama, stigma terorisme dimunculkan kembali dengan serangkaian teror di berbagai negara seperti Manchester, Marawi, Kampung Melayu, dan London.

"Qatar sebagai negara yang menampung dan punya kedekatan dengan kelompok tertuduh teroris akhirnya menjadi kambing hitam," ungkap Haryo Setyoko.

Kedua, kompetisi harga minyak yang semakin menurun. Arab Saudi, Oman, Bahrain sebagai produsen minyak terbesar mulai terancam akibat harga minyak dolar AS per barel semakin menurun.

"Di sisi lain, Qatar memiliki sumber daya gas yang tidak dimiliki negara Teluk lainnya dan berpotensi untuk mendekat ke Iran dan Rusia yang juga memiliki gas," lanjut Haryo Setyoko, alumnus National University of Singapore itu.

Ketiga, nilai tukar dolar AS akan terancam, jika Qatar mampu mengembangkan produksi gas dengan Iran dan Rusia, karena transaksi yang digunakan tidak akan memilih dalar AS lagi.

"Kepentingan Amerika Serikat dalam krisis Qatar ini pasti besar, karena berkaitan dengan kepentingan ekonomi, yaitu dolar AS yang terancam," pungkas Haryo Setyoko. [rus]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya