Berita

Saif al-Islam Gaddafi/BBC

Dunia

Putra Muammar Gaddafi Dibebaskan, Ketidakstabilan Di Libya Berpotensi Meningkat

SENIN, 12 JUNI 2017 | 16:47 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Saif al-Islam Gaddafi, putra kedua dari bekas penguasa Libya Muammar Gaddafi, telah dibebaskan dari penjara di bawah undang-undang amnesti.

Ia ditahan oleh seorang milisi di kota Zintan selama enam tahun terakhir.

Batalyon Abu Bakr al-Siddiq mengatakan bahwa dia telah dibebaskan pada hari Jumat pekan lalu namun dia belum terlihat di depan umum.


Dikhawatirkan langkah tersebut bisa memicu ketidakstabilan lebih lanjut di Libya.

Pengacaranya, Khaled al-Zaidi, menegaskan bahwa dia telah dibebaskan.

Dia menolak untuk mengatakan kota mana yang Saif al-Islam tempuh untuk alasan keamanan.

Batalyon Abu Bakr al-Siddiq mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan berdasarkan permintaan dari pemerintah sementara yang berbasis di timur negara tersebut.

Namun, dia telah dijatuhi hukuman mati secara in absentia oleh sebuah pengadilan di Tripoli, di bagian barat negara tersebut, di mana kontrol berada di tangan Kesepakatan Komparatif Nasional yang didukung oleh PBB.

Saif al-Islam dicari oleh Pengadilan Pidana Internasional atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama usaha ayahnya yang gagal untuk memberantas pemberontakan melawan peraturannya.

Dewan Militer Zintan yang sebelumnya terlibat dalam penahanannya dan dewan kota Zintan telah mengecam pembebasannya oleh Batalyon Abu Bakr al-Siddiq.

Dewan-dewan tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa membebaskan Saif al-Islam adalah sebuah bentuk kolusi, pengkhianatan atas darah para martir dan tikaman di belakang badan militer.

Saif al-Islam yang berusia 44 tahun yang secara kontroversial mendapatkan gelar PhD oleh London School of Economics pada tahun 2008, ditangkap pada bulan November 2011 setelah tiga bulan dalam pelarian setelah berakhirnya peraturan Muammar Gaddafi selama beberapa dekade.

Dia sebelumnya dikenal karena memainkan peran kunci dalam membangun hubungan dengan Barat setelah tahun 2000, dan telah dianggap sebagai wajah reformis rezim ayahnya.

Namun setelah pemberontakan tahun 2011, dia mendapati dirinya dituduh menghasut kekerasan dan membunuh pemrotes.

Empat tahun kemudian, dia dijatuhi hukuman mati dengan menembakkan skuad menyusul persidangan yang melibatkan 30 rekan dekat Gaddafi. Demikian seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya