Berita

Tentara Selandia Baru/Net

Global

PBB Minta Selandia Baru Pastikan Tuduhan Pembunuhan Di Afghanistan 2010

SABTU, 10 JUNI 2017 | 16:54 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

PBB meminta Selandia Baru untuk menyerahkan angka resmi jumlah kematian warga sipil dalam serangan 2010 di Afghanistan untuk sepenuhnya diselidiki.

Seruan itu dibuat setelah sebuah buku buku mengklaim enam orang tewas dalam serangan tersebut.

Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Penyiksaan telah meminta Selandia Baru untuk menyelidiki dan menanggapi daftar masalah sebelum pemeriksaan oleh badan PBB di Jenewa, yang kemungkinan akan terjadi pada 2019.


Langkah ini juga datang setelah wartawan investigasi Jon Stephenson dan Nicky Hager merilis buku mereka, 'Hit and Run,' di mana mereka mengklaim bahwa enam warga sipil Afghanistan terbunuh dan 15 lainnya cedera dalam serangan 2010.

Penulis juga mengatakan bahwa Special Air Service (SAS), yang didukung oleh pasukan AS dan Afghanistan, membakar dan meledakkan puluhan rumah dan tidak membantu yang terluka. Mereka selanjutnya mengklaim bahwa seorang tahanan dianiaya.

Namun, menteri luar negeri Selandia Baru, Gerry Brownlee, mengatakan dalam sebuah pernyataan Jumat bahwa pemerintah negaranya belum diperintahkan untuk menyelidiki tuduhan yang dibuat dalam buku tersebut.
 
Brownlee malah menyatakan bahwa pemerintah telah menerima "daftar isu" dari Komite Menentang Penyiksaan sebagai bagian dari proses pelaporan rutin.

"Kami adalah satu dari 161 pihak dalam Konvensi Menentang Penyiksaan untuk menerima daftar tersebut dan kami memiliki dua tahun untuk menanggapi laporan periodik ketujuh ini," kata Brownlee seperti dimuat Russia Today.

Dia kemudian menyatakan bahwa tuduhan yang dibuat oleh penulis buku tersebut tidak disetujui.

"Kami akan menanggapi permintaan informasi panitia, tapi saya ingin jelas bahwa ini bukan kritik Selandia Baru, atau Angkatan Pertahanan," tegasnya. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya