Berita

Komjen Suhardi Alius/Net

Wawancara

WAWANCARA

Komjen Suhardi Alius: Pencegahan Kita Siapkan Benar-benar, Jangan Sampai Ada Rembesan Dari Filipina

JUMAT, 09 JUNI 2017 | 09:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jenderal bintang tiga ini sudah menyiapkan resep untuk menghalau masuknya teroris yang berafiliasi dengan negara Islam Irak-Suriah (ISIS) yang kini menyerang kota Marawi, Filipina. Langkah antisipatif ini disiapkan mengingat kombatan pro-ISIS itu kebanyakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Indonesia.

Selain bicara soal ancaman ISIS dari Merawi, Jenderal Suhardi juga mengomentari ren­cana revisi Undang-Undang Antiterorisme yang mewacana­kan penambahan peran bagi BNPT untuk mengkoordinasikan tugas pemberantasan terorisme antarlembaga. Berikut pernyataan lengkap Jenderal Suhardi Alius saat ditemuai usai rapat dengan Komisi III DPR, di gedung DPR, Jakarta, Kemarin;

Kabarnya kombatan Indonesia yang kini ikut menyerang militer Filipina di Marawi, nekat nyeberang ke sana set­elah mendapat pengaruh dari terpidana terorisme Aman Abdurrahman. Benar begitu?
Pengaruh dari doktrin-doktrin itu masih terus berjalan. Itu tugas dari kita untuk mereduksi itu se­muanya. Doktrin-doktrinnya ba­gaimana mereka mempengaruhi, jadi mereka terinspirasi.

Pengaruh dari doktrin-doktrin itu masih terus berjalan. Itu tugas dari kita untuk mereduksi itu se­muanya. Doktrin-doktrinnya ba­gaimana mereka mempengaruhi, jadi mereka terinspirasi.

Bagaimana caranya Aman Abdurrahman menyampai­kan doktrinnya itu sementara dia sedang menjalani masa tahanan?
Lewat yang besuk-besuk itu. Jadi yang besuk-besuk itu juga harus diwaspadai sekarang itu. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan juga perintahkan sekali soal itu. Nggak bisa lagi. Dulu yang di Tangerang yang adiknya polisi juga pernah mengunjungi. Jadi yang seperti ini, antara Densus dan kita harus bekerja sama.

Kalau seperti itu ke depan Lapas terorisme mesti lebih diketatkan lagi dong penga­manannya?
Jadi nanti kita koordinasi­kan dengan Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), karena itu kan menyangkut otori­tas orang, tapi kita berkepentingan. Karena ideologi ini kan mindset, nggak bisa lepas begitu saja.

Sejauh ini Anda sendiri apa punya data para kombatan Indonesia yang saat ini terlibat di Marawi. Dari mana saja mereka?
Kan begini, secara historis kita bisa melihat. (Kombatan) kita dulu pernah punya pengala­man dengan Afganistan. Kita juga pernah pengalaman dengan Filipina Selatan, Suriah dan sekarang kembali lagi dengan Filipina Selatan. Benih-benih itu pasti masih ada. Tahanan terorisme yang masih ada di Filipina juga masih ada lho. Tetapi kalau kita lihat secara keseluruhan ber­dasarkan laporan dari Filipina sendiri. Kita lihat itu ada juga (kombatan) dari Malaysia, Saudi Arabia, dari Indonesia, tapi kan jumlah presentasenya kecil itu. Pastinya semuanya kami moni­tor terus kok, dengan pemerintah Filipina juga, dengan semua jar­ingan kami, Kementerian Luar Negeri, imigrasi, polisi, kami sudah koordinasi.

Lalu Anda melihat para kom­batan di Filipina itu terindikasi masuk jaringan mana?
Kabanyakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu ya.

Kalau dari Indonesia sendiri ada berapa orang?
Kan Densus 88 Anti Teror sudah kasih statement soal itu. Coba tanya ke Densus itu.

Terus langkah pencegahan yang dilakukan oleh pemer­intah supaya para teroris asal Filipina itu tidak masuk ke Tanah Air apa saja?

Kami masih dalam pengem­bangan terus. Sekarang Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara. Kita persiapkan benar dan jangan sampai ada rembesan di sana. Sekarang masih ada di sana semua. Pemerintah sudah memerintah­kan semua (berjaga). Nanti hari Rabu depan Menkopolhukam ada acara di Manado.

Sejauh ini adakah informasi para kombatan Indonesia itu berupaya masuk lagi ke Tanah Air?
Sementara belum kelihatan (yang mencurigakan). Tapi kita harus antisipasi dan waspada dengan melibatkan seluruh masyarakat.

Soal lain. Panja RUU Antiterorisme kabarnya akan menambahkan peran BNPT untuk mengkoordinasikan tu­gas pemberantasan terorisme. Benar begitu?
Dalam Perpres sudah ada itu, tahun 2010-2012 di pembaha­ruan. Kita bikin program, meng­koordinasikan kementerian, itu sudah ada. Sekarang imple­mentasinya kita koordinasikan ke 31 lembaga dan badan juga koordinasi kita. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya