Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Pemilihan Rektor Oleh Presiden Adalah Politisasi Kampus

RABU, 07 JUNI 2017 | 06:45 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Gagasan pemilihan rektor oleh presiden sangat tidak logis, apabila hanya merujuk kepada kekhawatiran adanya ideologi selain Pancasila yang menyusup dalam perguruan tinggi sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

"Kebijakan ini sarat dengan dugaan pemerintah di bawah rezim Jokowi tidak percaya terhadap kalangan akademisi di Indonesia atau kebijakan ini hanya dijadikan alasan untuk dapat mengintervensi pemilihan rektor di perguruan tinggi," kata Ketua bidang Pendididikan Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) Muhammad Noval, Rabu (7/6).

Pembatasan paham radikal seharusnya tidak ditujukan kepada kalangan terpelajar dan akademisi, jika perguruan tinggi dianggap sebagai tempat lahirnya idiologi lain selain idiologi Pancasila, maka ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia.


"Masalah internal perguruan tinggi sudah sepatutnya di bawah kewenangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang penting prosesnya transparan," ujar Noval.

Selain itu kebijakan ini juga berdampak pada pelemahan berekspresi di kampus dan pembungkaman mahasiswa sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman orde baru.

"Mencegah paham radikal berkembang di kampus bukan dengan cara mengintervesi pemilihan rektor karena penentu kebijakan beridiologi di perguruan tinggi bukan terletak pada rektor tetapi pada pribadi civitas akademika kampus," ucapnya.

Jadi sangat disesalkan jika pemerintah menggunakan alasan yang tidak logis untuk mempolitisasi kampus. Jika kebijakan ini tetap dipaksakan maka akan ada banyak permasalahan lainnya yang akan terjadi di kampus.

"Kedepan jika aturan ini berlaku akan banyak kepentingan politik khususnya partai politik dalam penentuan rektor perguruan tinggi. Pada akhirnya perguruan tinggi bukan lagi dipimpin oleh kalangan yang mempunyai visi dan misi untuk kemajuan kampus tetapi kepentingan politik semata," demikian Noval. [rus]

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya