Berita

Anton Tabah Digdoyo/Net

Politik

Anton Tabah: Jangan Salah Maknai Sara, Makar Dan Intoleransi

SABTU, 03 JUNI 2017 | 22:50 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo mengingatkan pemerintah agar tidak keliru memaknai intoleransi, sara dan makar.

"Contoh, memilih pemimpin di mayoritas muslim harus seiman seakidah itu bukan intoleransi, karena kitab suci Al-Quran memerintahkan seperti itu," kata Anton pensiunan polisi dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal ini, Sabtu (3/6).

Menurutnya, apa yang diperintah kitab suci harus ditaati dan itu sesuai amanah UUD 1945 Pasal 28 dan 29, negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan umat harus taat pada ajaran agamanya.


"Demikian pula masalah Ahok, rakyat Indonesia tidak memilih, tidak suka Ahok bukan karena dia China. Tapi karena dia buruk perangai, buruk kata, tidak cocok dengan karakter bangsa Indonesia yang santun dan halus," ujar Anton.

Ia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak mudah menuduh para ulama dan tokoh aktivis berbuat makar hanya karena unjuk rasa dengan jutaan rakyat.

"Unjuk rasa itu hak sah menurut konstitusi dan dijamin UU. Apalagi itu dilakukan dengan tertib bahkan tidak sehelai rumput pun rusak sehingga dikagumi dunia," ungkapnya.

Soal UU Terorisme yang sedang dibahas di DPR, Anton menilai tidak perlu dilakukan revisi, karena selain tidak mudah juga lama bertele-tele.

Ia mengusulkan itu dilakukan dengan keputusan politik. Keputusan politik akan lebih mudah dan cepat. Apalagi akan melibatkan militer, cukup dengan persetujuan DPR, Presiden dan Menteri Pertahanan, dan berlaku maksimal dua tahun. Dan jika masih diperlukan bisa diperpanjang dua tahun lagi.

"Pelibatan militer ke otoritas sipil tiddk boleh dengan UU karena UU itu bersifat permanen. Sekecil apapun pelibatan militer ke otoritas sipil harus dengan keputusan politik yang bersifat sementara bukan permanen," tegas Anton.

Demikian juga dalam menghadapi Imam Besar FPI M. Rizieq Shihab. Menurut Anton, pemerintah mesti bijak jangan sampai rakyat menilai kasus yang menjerat Rizieq terkesan mengada-ngada.

Jelas Anton, pemerintah tidak sadar telah mejadikan Rizieq tokoh paling menentukan bangkitnya kedasaran moral politik umat Islam. Bahkan opini yang berkembang di rakyat bahwa pemerintah telah memposisikan diri sebagai anti umat Islam. Rizieq dan para ulama memainkan peran karakter paduan Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Bung Tomo, Jendral Soedirman dan lain sebagainya.

"Konstalasi ini bis melahirkan kebangkitan nasional jilid II yang tidak bisa dibendung," demikian Anton Tabah Digdoyo. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya