Berita

Pertahanan

3 Poin Nilai Ramadhan Untuk Perangi Terorisme

KAMIS, 01 JUNI 2017 | 15:47 WIB | LAPORAN:

Ramadhan adalah bulan penuh berkah ampunan. Selain itu, Ramadhan juga  memiliki nilai-nilai tinggi untuk menciptakan perdamaian dan ketentraman, terutama dari ancaman terorisme.

Karena itu, penerapan nilai-nilai Ramadhan itu sangat penting dalam menciptakan Indonesia sebagai negara yang damai, religius, dan majemuk.

Ketua Lembaga Dakwan PBNU KH Maman Imanulhaq menyebutkan ada tiga poin nilai Ramadhan yang harus dihayati dan diamalkan umat muslim selama menjalankan ibadah puasa untuk membentengi diri dari kelompok radikal terorisme.


Poin pertama mengacu pada surat Al Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman. Artinya, puasa Ramadhan itu ajakan keimanan. Iman itu identik dengan amanah, dan amanah itu identik dengan aman.

"Kekuatan iman yang melahirkan sosok atau pribadi yang amanah dan tidak khianat, termasuk tidak khianat pada komitmen kebangsaan dan kemanusiaan kita. Itu akan membuat rasa aman, tentram pada lingkungan dan pada diri sendiri. Bila seseorang memahami hal itu, tentu akan ada orang muslim yang berbuat kekerasan, apalagi melakukan aksi terorisme," kata Kiai Maman.

Sebaliknya, terang anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB ini, bila seseorang jiwanya tidak tenang dan terus menciptakan teror, rasa tidak aman, maka sesungguhnya dia telah berkhianat. Dengan demikian bila ada orang yang mengaku sebagai teroris dan mengatakan dirinya sebagai orang yang menegakkan agama dan kemanusiaan, sebenarnya itu bertentangan dengan nilai-nilai iman, karena dia berkhianat pada komitmen kemanusiaan dan keislaman.

"Islam selalu menekankan al muslimana man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi, yang artinya seorang muslimin adalah orang islam yang selamat dari ucapan kasar, caci maki, fitnah, juga gerakan tangan, termasuk mengangkat senjata kepada sesama muslim," jelas pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka ini.

Menurutnya, komitmen-komitmen itulah yang seharusnya muncul di bulan Ramadhan sehingga tidak ada orang yang menciptakan teror, melakukan teror, dan membuat orang lain tidak tenang.

Poin kedua, lanjut Kiai Maman, puasa itu secara definitif artinya assyiam yaitu menunda kesenangan. Maka selama berpuasa Ramadhan umat muslim diperintahkan untuk selalu menahan diri baik ucapan, gerakan, termasuk menahan tangan kita untuk tidak memijit keyboard dan menshare berita hoax, fitnah, dan sebagainya. Pola inilah yang nmenjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk menahan diri dari segala macam hawa nafsu.

"Ini kesempatan besar, sehingga Ramadhan akan meliharkan pribadi yang mampu berpikir lebih jernih, dan yang mampu membuat kita menciptakan ketenangan, keamanan, serta perdamaian itu sendiri," tutur Kiai Maman.

Poin terakhir, kata Kiai Maman, salah satu tujuan berpuasa adalah menciptakan individu muttaqin. Orang yang muttaqin (bertaqwa) itu selalu punya prinsip universal menjunjung tinggi HAM dan menguatkan kembali nilai persaudaraan yang didalamnya ada ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniayah, dan ukhuwah basariah.

"Hari ini seluruh negara di dunia mengalami persoalan sama soal terorisme. Maka Ramadhan menjadi momemtum bagi kita untuk memerangi teroris karena teroris tidak ada kaitannya dengan agama apapun, negara manapun, keyakinan manapun, tapi terorisme adalah musuh kemanusian yang harus kita lawan dengan cara masif dan sistematik," urainya.

Ia meminta langkah penanggulangan terorisme tidak melulu dilawan dengan cara-cara terdahulu yaitu meminta TNI dan Polri turun tangan. Tapi ada sel-sel teroris yang sepertinya kelihatan mati, tapi akan bangkit dan mengajak melawan pemerintah yang sah, menyebarkan kebencian, membunuh aparat, dan sebagainya.

"Kelompok inilah yang harus diwaspadai karena orang bertagwa adalah orang yang mampu menciptakan nilai-nilai perdamaian itu sendiri, bukan melawan pemerintah dan menyebarkan kebencian," pungkas Kiai Maman.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya