Berita

Nasaruddin Umar/Net

Lorong Sunyi Menuju Tuhan (23)

Spiritual Contemplations: Terimalah Dirinya Sendiri!

SELASA, 30 MEI 2017 | 10:04 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SALAH satu hal yang be­rat dilakukan ialah meneri­ma diri sendiri apapun adan­ya diri kita. Pada umumnya orang hanya akan mener­ima dirinya ketika berhasil melakukan prestasi. Akan tetapi orang akan sulit men­erima dirinya jika gagal atau mengecewakan. Bahkan tidak sedikit irang mendhalimi dirinya sendiri jika mengalami kekecewaan. Termasuk di da­lamnya mereka yang korban bunuh diri.

Kekecewaan dan kegagalan tidak mesti diir­ingi dengan penolakan diri. Jika kegagalan menimpa diri kita setelah bekerja keras, maka katakanlah: "Inilah aku". Terimalah dirinya sedi­ri karena qadha dan qadr seseorang berbeda satu sama lain. Mungkin ada qadha-nya sama tetapi qadr-nya berbeda. Perbedaan antara ked­uanya ialah qadha merupakan ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan segala sesuatu sejak azali. Sedangkan qadar, terjadinya penciptaan sesuatu sesuai ukuran dan timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya. Qadha ketentuan yang bersifat umum, generik, dan global sejak zaman azali, sedangkan qadr adalah bagian-bagian, mikro, dan perincian-perincian dari ketentuan qadha. Jika beberapa gelas jatuh ke lantai dari keting­gian tertentu maka qadha gelas-gelas itu pasti pecah, namun serpihan masing-masing gelas berbeda-beda satu sama lain. Pecahnya gelas-gelas yang jatuh ke lantai merupakan qadha, tetapi serpihan pecahan masing-masing gelas berbeda-beda satu sama lain, itu disebut qadr.

Tidak ada orang yang betul-betul sempurna, seperti tidak ada juga orang yang betul-betul serba hina. Selalu ada kelebihan dan kekuran­gan pada diri setiap orang. Jika kemiskinan dan kebodohan mendera ingatkan dirinya bahwa kita lahir tanpa sehelai benang di badan. Sepa­rah apapun kemiskinan dialami seseorang tidak mungkin memperbaiki kondisi hidupnya dari nol. Minimal sudah pernah mengalami pengalaman dan pengetahuan. Jika kita menatap makhluk Tuhan yang ada di bawah pasti kita masih bisa menemukan kelebihan diri kita. Sehebat apap­un diri kita pasti masih punya kelemahan jika kita menatap ke atas. Karena itu, jangan pernah mengambil tolak ukur orang lain di dalam men­gukur diri sendiri. Mari kita mengukur diri dan keluarga kita sendiri berdasarkan apa adanya, bukan bagaimana seharusnya.


Kita tidak bisa memaksa anak kita un­tuk rengkin di sekolah seperti anak tetangga. Mungkin anak tetangga mengkonsumsi maka­nan dan minuman standar 4 sehat 5 sempurna dan sanggup mendatangkan guru-guru privat untuk sejumlah bidang studi, tetapi karena ket­erbatasan dana yang kita miliki, maka gizi anak kita di bawah standard gizi anak tetangga. Men­gukur anak kita dengan menggunakan ukuran anak tetangga tentu tidak bijaksana, bahkan boleh jadi mendhalimi anak sendiri karena me­maksakan kehendak di luar kemampuan anak. Kita perlu menerima kenyataan apa adanya anak kita karena terkait dengan kemampuan kita yang terbatas untuk memfasilitasi anak seperti anak tetangga.

Lihatlah dirinya dalam konteks makro. Di ba­lik kelemahan kita pasti ada sesuatu yang da­pat kita banggakan. Akan tetapi di balik kebang­gan kita pasti ada kelemahan mendasar, yang mungkin hanya kita paling tahu. Karena itu, cara paling bijak di dalam mengukur diri pada setiap kejadian menimpa diri kita ialah men­erima kenyataan diri seperti apa adanya. Kita kembalikan pada diri kita bahwa kita memang bukan orang lain. Kita adalah diri kita sendiri. Dengan demikian, persoalan dan beban hidup akan terasa lebih ringan. ***

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya