Berita

Tjahjo Kumolo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Tjahjo Kumolo: Ahok Berhenti Dengan Terhormat, Dengan Begitu Dia Dapat Uang Pensiun

MINGGU, 28 MEI 2017 | 08:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Surat pengunduran diri Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sebagai Gubernur DKI Jakarta sudah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo. Namun keputusan resminya masih harus menunggu Keputusan Presiden (Keppres) pemberhentian dari Presiden Jokowi.

Seperti diketahui, Ahok me­nyampaikan surat keputusan pengunduran dirinya pasca di­vonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara dalam kasus penistaan agama. Ahok divonis dua tahun penjara. Kini Ahok ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Tak lama setelah itu, terbitlah Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2017 tentang pemberhen­tian sementara Gubernur DKI Jakarta dan penunjukan Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta ke­pada Djarot Saiful Hidayat untuk menjalankan sisa masa jabatannya hingga Oktober 2017.


Ahok juga mencabut pernyataan banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Berikut pen­jelasan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo terkait mekanisme politik dan administrasi pengunduran diri Ahok

Mekanismenya politik dan administrasi pengunduran diri Ahok nantinya seperti apa?
Jadi setelah surat pengun­duran diri diterima Presiden, Mendagri, DPRD DKI dan Sekda, DPRD harus menggelar sidang paripurna pengunduran diri Ahok. Karena sesuai Pasal 78 dan 79 Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemda, pengunduran diri atas permint­aan sendiri diumumkan oleh pimpinan DPRD melalui rapat paripurna.

Kapan rencananya rapat paripurna ini dilakukan?
Saya sudah kontak Ketua DPRD, saya kira dalam pekan depan. Ini sebagai dasar karena Ahok tidak menggunakan upaya hukum karena keputusannya sudah inkracht (berkekuatan hukum tetap).

Setelah itu bagaimana?
Hasilnya itu lalu disampaikan ke Mendagri, lalu disampaikan kepada Presiden untuk mengaju­kan Keppres pemberhentian.

Untuk gubernur pengganti­nya bagaimana?
Selain Keppres pemberhen­tian, Presiden juga akan mener­bitkan Keppres untuk gubernur definitif, yaitu Djarot Saiful Hidayat yang kini menjadi Plt gubernur DKI Jakarta. Keppres ini merupakan putusan yang terpisah dengan Keppres pem­berhentian Ahok. Sebab, Pak Djarot memerlukan landasan untuk menjalankan tugasnya hingga Oktober 2017.

Setelah Djarot jadi guber­nur, wakilnya siapa?
Posisi wakil gubernur tidak diisi. Sebab, sisa masa jabatannya tinggal kurang dari 18 bulan. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pemerintahan daerah, minimal sisa 18 bulan baru ada wakilnya.

Mengingat masa jabatan yang tinggal sedikit, apa yang menjadi tugas prioritas bagi Djarot?
Setelah menjadi gubernur definitif, Djarot memiliki tugas utama untuk menyiapkan proses pergantian gubernur di bulan Oktober. Selain itu juga mem­persiapkan perubahan anggaran termasuk janji Pak Anies, supaya terintegrasi di perencanaan ang­garannya. Kalau 2 bulan seka­rang tidak diakselerasi dengan baik kan kasihan anggarannya tidak terserap.

Maksudnya Djarot nanti juga harus masukan pro­gram-program Anies-Sandi ke APBD?
Iya. Saya kira program -pro­gram itu bisa masuk ke APBD Perubahan. Sekda, Bappeda, DPRD nanti kami minta untuk menerima timnya Pak Anies, guna memastikan perencanaan anggaran tertata dengan baik dan bisa segera dilaksanakan.

Menurut Anda program apa saja yang sebaiknya di­masukan?
Program-program yang masuk program strategis nasional, sep­erti MRT dan LRT. Optimalkan program pro-masyarakat, seperti kartu sehat, kartu pintar, harus selesai. Saya kira harus terinte­grasi dengan programnya Pak Anies walau dengan skema yang beda. Tapi kan intinya sama un­tuk mempercepat kesejahteraan rakyat, mempercepat pemer­ataan pembangunan.

Setelah Ahok mengundur­kan diri, apakah dia dapat uang pensiun?
Kalau mengundurkan diri berarti berhenti dengan hormat. Kalau diberhentikan dengan hormat, Surat Keputusan (SK) keluar dan dapat uang pensiun.

Banding yang diajukan oleh JPU kan belum dicabut. Itu bagaimana?
Soal itu pemerintah juga tetap menunggu kabar dari jaksa. Sebab surat salinan putusan dari Pengandilan Negeri (PN) Jakarta Utara dan keterangan dari PT DKI terkait pencabutan memori banding menjadi syarat administrasi yang ditunggu pe­merintah. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:05

Membongkar Praktik Haram MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 02:00

Indonesia Sedang Hadapi Perang Sumber Daya

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34

Berantas Korupsi di BGN jadi Bukti Prabowo Jalankan Amanat Reformasi 98

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:28

Warga Tuntut Pengurus P3SRS Apartemen Taman Rasuna Diberhentikan

Kamis, 04 Juni 2026 | 01:07

Pemuda Katolik Dukung Kejagung Bersih-bersih BGN

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:40

Ketua SC Muktamar X PPP Ngaku Borong Kamar Lantai 10 untuk Persidangan

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:17

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Dadan Hindayana Cs Terlalu Berani Korupsi!

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:02

Badko HMI Sultra Laporkan Dua Perusahaan Tambang ke Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 23:50

Selengkapnya