Berita

Publika

Destruksi Nation Building

SABTU, 27 MEI 2017 | 11:05 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SESEORANG memaki Lieus Sungkharisma. Dia tulis "Monyet lagi bawa obor kerusuhan". Tercatat tanggal 24 Mei 2017, Lieus ikut pawai obor sambut bulan puasa.

Foto Lieus sedang pegang obor jadi objek vandalisme tulisan. Pelakunya diketahui bernama Lukas. Anggota ormas PSMTI. Ada nama-nama beken dalam ormas ini. Antara lain, The Nin King, Prajogo Pangestu, Didi Dawis dan Teddy Jusuf.

Caci-maki macam begini masuk kategori Profanity. Sebuah behavior ofensif bagi polite society. Tulisan Lukas yang mengidentifikasi Lieus sebagai "monyet" bersifat kasar, agresif, vulgar, distasteful. Bisa kena Pasal 310 dan 311 KUHP. Semalam, tanggal 26 Mei, Lieus melaporkan Lukas ke Mapolda Metro Jaya.


Profanity menggunakan nama binatang jadi tradisi low class Dutch colonizer. Modern American slang punya kata "Assmonkey" sebagai pengganti kata idiot. Belanda gunakan kata "Aap" (literally berarti kera, monyet, "ape" atau "monkey") sebagai ethnic slur. Mereka menyebut orang-orang Afrika, Maroko dan Turki dengan kata "Aap" itu.

Selain monyet, sebagai animal-lover, Belanda punya kata "varkensneuker". Varken artinya babi atau "pig". Neuker berasal dari kata "neuken" yang berarti "fucker". Jadi literally, varkensneuker berarti "a pig fucker". Kasar sekali. Barbarian.

Kebiasaan mencaci-maki (seperti si Lukas) merupakan penyakit mental. Dunia medis menyebut "Coprolalia", involuntary swearing or the involuntary utterance of obscene words or socially inappropriate and derogatory remarks.

Masalah kedua dalam remarks biadab Lukas itu adalah istilah "obor kerusuhan".

Lieus berkata, "Nah, masakan sekarang umat Islam melakukan Pawai Obor untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dibilang sebagai obor kerusuhan? Ini orang kalau tidak tolol, pastilah sengaja memang ingin memancing keributan".

Anasir abusive macam Lukas ini merusak proses Nation Building. Paul James menyebutnya "nation formation", the broad process through which nations come into being.

Banyak negara dirusak tribalisme; rivalry between ethnic groups within the nation. Antagonisme rasial berakibat pada disintegrasi bangsa. Misalnya, pemisahan diri Biafra dari Nigeria di tahun 1970. Tribesmen di Ogaden masih berusaha memerdekakan diri di Somalia. Mismanagemen Inggris memicu perpecahan Pakistan dan India. Genosida di Rwanda dan Sudan disebabkan disharmoni dan rapuhnya kohesi etnik, agama dan ras.

Di Indonesia, minoritas mestinya tahu diri. Jangan sok jago. Hargai mayoritas. Karena, seperti kata Harris Mylonas, "Legitimate authority in modern national states is connected to popular rule, to majorities. Nation-building is the process through which these majorities are constructed."

Proses nation building Indonesia enggak bisa dilepaskan dari role mayoritas. Pribumi dan Islam membentuk gambaran dominan tentang Indonesia.

Menyebut Pawai Obor sebagai "obor kerusuhan" adalah tindakan kriminal. Perusak harmoni dan pemicu disintegrasi bangsa. Sinyalemen dari orang gila. Mesti ditindak tegas.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya