Lampu dan penerangan bukan hanya mengubah dari gelap menjadi terang, tapi juga melambangkan kemajuan dan keamanan sebuah bangsa.
Pakar LED Internasional Riza Ardiana menyampaikan, merujuk data penelitian citra satelit terbaru, benua Eropa, kawasan Amerika Serikat, Jepang dan Cina sebagai negara-negara maju dunia tetap bercahaya pada malam hari. Sebaliknya, kawasan Indonesia dalam citra satelit itu tampak gelap dan hanya ada beberapa titik cahaya.
"Hanya beberapa kota-kota besar saja di Pulau Jawa yang ada titik cahaya. Dan satu di Sumatera yang terang pas malam. Artinya apa, bahwa pencahayaan lampu itu penting untuk kemajuan sebuah negara," kata Riza dalam Fokus Grup Diskusi Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor 41/PERMEN-KP/2016 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung serta Penerapan Sistem Manajemen Energi di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rabu (24/5
Menurut Riza, negara-negara maju yang terpantau citra satelit terang saat malam hari menunjukkan roda ekonomi masih tetap berjalan, tidak seperti Indonesia yang begitu hari gelap langsung berhenti.
"Artinya produktivitas masyarakat negara maju tidak terbatas oleh faktor alam," ujar mantan Manajer LED Phillips Global itu.
Pria yang pernah ditunjuk Phillips untuk memegang proyek pemasangan LED di Monas, Borobudur dan Jembatan Ampera itu menambahkan, jaminan penerangan di malam hari juga berpengaruh terhadap tingkat keamanan dan kriminalitas di negara tersebut.
"Kalau negara yang terang tingkat kriminalitasnya juga cenderung rendah. Tapi kalau negara yang gelap warganya juga takut beraktivitas malam hari karena takut jadi korban kejahatan. Kalau diterangi oh aman," imbuh Riza merujuk paparannya dalam FGD.
Riza menjelaskan, lampu penerangan saat berpengaruh terhadap produktivitas mereka yang bekerja di gedung perkantoran. Kantor yang memiliki penerangan dengan cahaya terang dan berkualitas otomatis membuat interaksi sesama karyawan berjalan baik yang berujung kepada peningkatan produktivitas.
"Bayangkan kalau kantor gelap, interaksi manusianya tidak jalan. Kalaupun berinteraksi, interaksinya tidak bagus, komunikasinya tidak bagus. Jadi penting bahwa lampu itu untuk menciptakan relationship berkualitas di kantor," tutur manajer perusahaan global asal China yang memiliki cabang di 20 negara itu.
Narasumber lainnya, Direktur PT Duta Omega Elektrik (DOE) Widodo Heru menekankan pentingnya memilih lampu hemat energi dalam penerangan kantor sebagai bagian dari gerakan pemerintah yang digagas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pengembangan teknologi yang ramah lingkungan.
Menurut Heru, berdasarkan hasil penelitian ASEAN terbaru ditemukan fakta lampu menghabiskan energi penggunaan listrik terbesar di kawasan Asia Tenggara. Tercatat biaya listrik lampu sampai 24 persen, komputer 13 persen, dan sisanya habis untuk listrik AC, ventilasi udara dan lain-lain.
Sebagai solusi penghematan listrik di perkantoran, DOE menawarkan LED produk Renesola yang sebagai bagian dari gerakan hemat energi pemerintah untuk mengganti lampu-lampu di perkantoran pemerintah dan swasta dengan lampu LED. LED Renesola memang memiliki kelebihan dibandingkan LED produk merek lain, apalagi jika lampu bohlan biasa.
"Untuk biaya lampu satu tahun, lampu bohlam biasa 94 ribu, lampu hologen 68, lampu hemat energi 23, dan lampu LED hanya 16 ribu setahun per lampu. Tingkat terangnya LED jauh lebih terang konsumsinya setara 40 watt itu hanya setara 3-5 watt," papar Heru.
Heru menambahkan umur lampu LED juga jauh lebih awet ketimbang lampu-lampu jenis lain. "Tingkat efesiennya sampai 83 persen, umurnya juga lama sampai 34 tahun, dibanding lampu bohlam biasa hanya 3-4 tahun," tandas dia di hadapan para peserta FGD di KKP itu.
[wid]