Berita

Politik

Penambahan Pimpinan Parlemen Bikin Boros Uang Negara

RABU, 24 MEI 2017 | 17:17 WIB | LAPORAN:

Wacana penambahan jumlah pimpinan parlemen lewat revisi Undang-Undang 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (MD3) menuai pro dan kontra.

Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI Asri Anas mengaku keberatan dengan wacana tersebut. Pasalnya, penambahan jumlah pimpinan justru membuat boros anggaran negara.

"Memahami kondisi keuangan negara yang lagi susah. Saya mengganggap kesan bagi-bagi kekuasaan itu sangat kental," kata Asri dalam keterangannya, Rabu (24/5/2017).


Menurutnya, penambahan kursi pimpinan parlemen akan semakin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap para wakilnya.

Asri menjelaskan, dari segi anggaran secara otomatis terjadi penambahan bila pimpinan MPR ditambah dari lima menjadi 11 orang, begitu juga jika pimpinan DPR menjadi tujuh orang, dan pimpinan DPR menjadi lima orang.

Padahal, saat ini, anggaran untuk pimpinan MPR mencapai Rp 46.474.000.000 di luar gaji dan tunjangan. Jika ditambah enam lagi maka akan ada penambahan anggaran lebih dari Rp 100 miliar.

"Itu di luar tunjangan dan kegiatan sosialisasi pimpinan, yang asumsi kami bisa Rp 160 miliar," kata Asri.

Jumlah Rp 160 miliar sendiri belum termasuk biaya penambahan ruangan dan barang untuk digunakan pimpinan yang baru.

"Asumsi kami, dampak penambahan pimpinan bisa mencapai Rp 20 miliar," demikian Asri.

Diketahui, salah satu perdebatan dalam RUU MD3 adalah usulan penambahan jumlah kursi pimpinan. Usulan melebar dari draf awal yang diajukan.

Sejumlah fraksi meminta pimpinan DPR ditambah dua menjadi tujuh orang, pimpinan MPR ditambah enam menjadi 11 orang dan pimpinan DPD ditambah dua menjadi lima orang. Sedangkan dalam draf awal yang sudah disahkan di paripurna, penambahan pimpinan hanya disetujui satu kursi di masing-masing lembaga untuk PDI Perjuangan sebagai pemenang Pileg 2014. [wah]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya