Berita

Ilustrasi/Net

Hukum

Kejaksaan Agung Jangan Dipolitisir

SENIN, 22 MEI 2017 | 19:28 WIB | LAPORAN:

Institusi Kejaksaan Agung diingatkan agar tidak dimanfaatkan oleh segelintir pihak tertentu untuk meng-golkan kepentingan politiknya.
 
Selama ini, institusi Adhiyaksa itu sering dianggap bermain politik, dalam mengusut kasus mapun dalam menahan pengusutan perkara, sehingga tujuan penegakan hukum dan keadilan mandeg.
 
Majelis Pertimbangan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Sandi Ebenezer Situngkir menyampaikan, mencuatnya pernyataan Walikota Bandung Ridwan Kamil di media, menunjukkan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia pun sudah disusupi oleh kepentingan-kepentingan sesaat segelintir orang.
 

 
"Bisa saja kepentingan pejabat di internal kejaksaan, maupun kepentingan partai politiknya, sedang dimainkan dengan pasangan calon yang akan bertarung di dalam kontestasi politik nasional maupun daerah. Kejaksaan Agung tidak boleh begitu,” ujar dia dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Senin (22/5).
 
Dia mengatakan, pernyataan dan pengakuan Ridwan Kamil yang masih heboh di media sosial itu, bukan tanpa dasar. Paling tidak, lenjut dia, Ridwan Kamil bicara dan atau diskusi dengan pihak-pihak yang disebutkannya itu, termasuk dari unsur yang bisa masuk ke Kejaksaan, sehingga muncullah pengakuan itu.
 
"Sebenarnya, selama ini, secara kasat mata, sering kali aparatur hukum kita, termasuk oknum jaksa atau pejabat di dalamnya bersentuhan dengan kepentingan politik tertentu. Jika tetap mengedepankan gol kepentingan politik pihaknya saja, tentulah penegakan hukum dan pencarian keadilan bagi masyarakat pencari keadilan tidak akan terwujud,” ujar Sandi.
 
Karena itu, dia berharap, Presiden Jokowi sebagai pucuk pimpinan Kejaksaan melakukan evaluasi dan juga memilih Jaksa Agung dan para pejabatnya yang benar-benar berintegritas, tidak terjebak pada kepentingan atau interest politik tertentu, independen dan profesional.
 
"Keberpihakan Jaksa ya harus pada penegakan hukum dan keadilan, bukan keberpihakan pada kepentingan politik bos-bos. Saran kita ya sebaiknya Pak Presiden tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Ini perlu ditelusuri dan dievaluasi,” ujarnya.
 
Memang, Kejaksaan Agung sedang dirundung masalah politisasi partai politik. Pernyataan Walikota Bandung Ridwan Kamil yang heboh di berbagai media sosial mengenai dukungan politik yang diberikan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, dikarenakan partai besutan pengusaha media Surya Paloh itu memiliki sejumlah alat yang efektif untuk bermain politik, antara lain, Grup Media Massa yang besar yang dimiliki Nasdem dan Kejaksaan yang kini dipimpin Jaksa Agung HM Prasetyo yang merupakan politisi Nasdem.
 
Sontak pengakuan Ridwan Kamil yang diunggah lewat video di media sosial itu membuat institusi Adhiyaksa panas dingin.
 
Jaksa Agung HM Prasetyo membantah pernyataan Ridwan Kamil itu. Menurut Prasetyo, institusi Kejaksaan Republik Indonesia bukanlah milik partai politik tertentu. Dia bilang, Kejaksaan adalah lembaga independen penegak hukum, yang merupakan milik seluruh Rakyat Indonesia.
 
"Saya enggak mau menanggapi. Itu bukan urusan saya. Itu urusan media. Kejaksaan ini milik rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu prinsip,” ujar HM Prasetyo.
 
Prasetyo juga menepis isu yang menyatakan bahwa Ridwan Kamil merasa terlindungi dari pengusutan berbagai kasus, sehingga memilih Partai Nasdem.
 
"Ya, biar saja. Kami tak ada masalah apa-apa dengan mereka. Kasus pun tak ada di sini, kalau ada kasusnya mungkin mencari aman, bukan itu masalahnya,” ujarnya.
 
Sebelumnya, heboh di media sosial video penjelasan deklarasi Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil bersedia diusung oleh Partai Nasdem pada pencalonannya di Pilkada Jawa Barat. Video tersebut beredar di medsos dengan durasi 2:32 menit dari akun D'Channel, berjudul Pengakuan Mengejutkan Ridwan Kamil 'Saya Terima Nasdem Karena Mereka Punya Media dan Kejaksaan'. [sam]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya