Berita

Istimewa

Politik

ISKA: Semua Harus Merawat Komitmen Kebangsaan

JUMAT, 19 MEI 2017 | 22:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Seluruh warga negara Indonesia apapun agama, suku, ras dan golongannya harus merawat komitmen kebangsaan dalam bingkai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Tanpa komitmen ini, Indonesia sebagai bangsa akan terus berada dalam situasi kacau dan galau serta karut marut.

"Langkah utama yang harus diambil adalah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia. Bangsa ini juga tidak boleh membiarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tumbuh subur," kata Ketua Umum Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) Hargo Mandirahardjo, Jumat (19/5).

Hal itu disampaikan Hargo terkait peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 20 Mei. Menurut Hargo, peringatan Kebangkitan Nasional pada tahun 2017 menemukan momentumnya setelah bangsa Indonesia secara langsung ataupun tidak langsung terbelah karena dinamika Pilkada DKI Jakarta serta dibubarkannya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).


Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menurutnya, harus senantiasa dirawat. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah warisan yang tidak boleh dijual ataupun ditukar dengan nilai apapun.

"Karena begitu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dapat ditukar ataupun dijual dengan nilai yang lain, yang namanya Indonesia sebagai bangsa akan hilang dan kembali terpecah belah," tegas Hargo Mandirahardjo.

Semua warga negara apapun suku, agama, ras dan golongannya, masih menurut Hargo, memiliki hak yang sama untuk hidup di Indonesia di dalam Pancasila. Tidak ada kelompok mayoritas yang lebih memiliki hak ataupun minoritas yang boleh diabaikan haknya.

"Kekuatan Pancasila sebagai dasar negara menjadi jelas ketika baik kelompok mayortas dan minoritas menjadi satu bangsa. Nilai Kebangsaan Indonesia terletak pada Bhinneka Tunggal Ika dan bukan azas yang lain," ujar Hargo lebih lanjut.

Bangsa Indonesia, demikian dijelaskan Hargo, tidak mungkin menjadi bangsa besar ataupun kuat dan kemudian mampu memenangi Perang Generasi Ke-IV atau sering disebut Proxy War jika cara berpikirnya masih berlandaskan nilai mayoritas dan minoritas. Di setiap pikiran warga negara Indonesia harus ada yang namanya 'Bangsa Yang Besar dan Kuat' dan ditakdirkan untuk memenangkan perang tersebut.

Perang Generasi Ke-IV diawali dengan adanya pengaburan garis antara perang dan politik, tentara dan sipil, sehingga sulit menentukan metode perang yang akan digunakan.

Dalam perang ini perbedaan antara situasi perang dan situasi damai menjadi kabur. Sulit membedakan antara pasukan militer dan sipil. Aksi-aksi dapat dilakukan secara serentak dan diam-diam  dengan menggunakan ekonomi, pendidikan ataupun budaya. Oleh karena itu, Perang Generasi Ke-IV bukanlah perang senjata super canggih (hard power) tetapi justru menemukan bentuk baru dengan menyerang kelemahan  pihak musuh (bangsa).

Ciri utama Perang Generasi Ke-IV adalah menurunnya loyalitas terhadap negara dan sebagai gantinya adalah meningkatnya loyalitas alternatif, seperti kepada agama, suku, etnis, geng, kelompok atau ideologi tertentu.

"Hanya dengan merawat komitmen kebangsaan, Indonesia dapat memenangkan perang ini. Negara ini aslinya merupakan pinjaman dari generasi mendatang. Jika saat ini kita tidak dapat menjamin bahwa Tanah Air dan Negara Indonesia dengan segala kekayaannya adalah milik generasi mendatang, artinya kita semua adalah para pihak yang berada dalam Perang Generasi Ke-IV. Yang akan memenangkan perang itu bukan bangsa Indonesia tetapi bangsa asing yang menggunakan diri kita sebagai alatnya," tegas Hargo.[dem]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya