Berita

Hukum

Polisi Kesulitan Cari Alat Bukti Kasus Novel

JUMAT, 19 MEI 2017 | 21:37 WIB | LAPORAN:

Kinerja kepolisian dinilai lamban menangani kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Berbeda ketika menangani kasus pembunuhan di Pulomas, Jakarta pada 2016 lalu, di mana dalam satu hari mampu menangkap para pelakunya.

"Memang pengungkapan kasus ada yang cepat dan ada yang lambat. Kasus Pulomas ada CCTV, jelas sekali. Jadi kita bisa ungkap satu kali 24 jam," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta (Jumat, 19/5).

Argo sendiri menyambangi Gedung KPK untuk menyerahkan hasil penyelidikan kasus Novel Baswedan kepada pimpinan. Menurutnya, polisi mengalami kendala menyelesaikan kasus itu karena sulitnya mencari alat bukti. Dari empat orang yang telah diperiksa karena diduga terlibat aksi penyerangan terpaksa harus dilepaskan. Sebab, penyidik tidak menemukan alat bukti kuat untuk menjerat tersangka.


"Kesulitannya ada korelasi barang bukti, saksi, dan korban, kita lihat korelasinya apa. Makanya kita rencanakan periksa Pak Novel kalau sudah diizinkan," jelasnya.

Pekan kemarin, polisi sempat menemui Novel yang masih dirawat intensif di Singapura. Penyidik senior KPK itu memberikan foto seseorang berinisial AL, namun ketika polisi melakukan pemeriksaan tidak ada bukti bahwa AL merupakan pelaku penyerangan.

"Kita ingin dapatkan kegiatan (Novel) sebelumnya seperti apa, karena ini sudah pasti terencana. Jadi kita harus tahu dari korban, apa pernah ada yang menguntitnya," beber Argo.

Pada prinsipnya kepolisian sangat terbuka dengan segala informasi dari berbagai sumber yang didapat, untuk selanjutnya dianalisa.

"Dalam analisa kita tidak gunakan prasangka atau asumsi, kita gunakan data di lapangan baik barang bukti atau saksi ahli. Artinya, segala kemungkinan bukti di tempat kejadian perkara kita ambil alih dalam arti kita cek. Tahap demi tahap dilakukan," demikian Argo. [wah]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Mojtaba Khamenei Janjikan Kekalahan Pahit bagi AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 | 16:14

Wondr Kemala Run 2026 Putar Roda Ekonomi hingga Rp140 Miliar

Minggu, 19 April 2026 | 16:06

India Protes ke Iran, Dua Kapalnya Ditembak di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 | 15:33

Didik Rachbini: Video Ceramah JK Direkayasa untuk Memecah Belah

Minggu, 19 April 2026 | 15:29

Ketua GPK: Isu Pemecatan Massal PPP Menyesatkan

Minggu, 19 April 2026 | 14:57

KPK Soroti Risiko Korupsi Pinjaman Luar Negeri

Minggu, 19 April 2026 | 14:13

MUI Dorong Penguatan Akhlak di Kampus untuk Cegah Kekerasan Seksual

Minggu, 19 April 2026 | 14:09

Iran Ringkus 127 Orang Terduga Mata-mata Musuh

Minggu, 19 April 2026 | 13:39

Cak Imin Wanti-wanti Penyalahgunaan Vape untuk Narkoba

Minggu, 19 April 2026 | 13:25

Menkop Ajak DPRD Dukung Kopdes Jadi Mesin Ekonomi Baru

Minggu, 19 April 2026 | 13:10

Selengkapnya