Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Aktor Di Balik WannaCry Ransomeware Masih Belum Teridentifikasi

SELASA, 16 MEI 2017 | 15:00 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penyebaran virus WannaCry ransomeware yang menargetkan sejumlah instansi penting di dunia Jumat Pekan lalu memicu pertanyaan penting soal siapa orang-orang di balik serangan siber tersebut.

Sejauh ini, sepertinya belum ada pihak yang mengetahui atau menduga soal siapa yang melakukannya atau di mana mereka berada.

"Kami melacak lebih dari 100 gerai Trojan yang berbeda, tapi kami tidak punya info tentang asal WannaCry," begitu kata Mikko Hypponen, kepala penelitian di perusahaan keamanan F-Secure.


Versi pertama dari malware tersebut muncul pada tanggal 10 Februari dan digunakan dalam kampanye ransomware singkat yang dimulai pada tanggal 25 Maret.

Spam email dan website yang dirusak digunakan untuk mendistribusikan WannaCry 1.0.

Versi 2.0, yang menimbulkan malapetaka selama akhir pekan, sama dengan aslinya selain penambahan modul yang mengubahnya menjadi worm yang mampu menyebar dengan sendirinya.

Analisis kode di dalam WannaCry telah mengungkapkan sedikit informasi. Begitu kata Lawrence Abrams, editor situs berita keamanan Bleeping Computer, yang melacak ancaman berbahaya ini.

"Terkadang dengan ransomware kita bisa mendapatkan petunjuk berdasarkan senar di executable atau jika mereka upload ke Virus Total untuk memeriksa pendeteksian sebelum distribusi," katanya seperti dimuat BBC.

Petunjuk itu bisa menunjukkan bahwa itu adalah karya kelompok mapan, katanya, tapi hanya ada sedikit tanda dari teks kirim-kisah dalam versi yang saat ini beredar.

"Peluncuran ini cukup bersih," kata Abrams.

Periset lain telah memperhatikan beberapa aspek lain dari malware yang menyebutkan bahwa hal itu mungkin merupakan karya kelompok baru.

Ada petunjuk lain dalam cara yang aneh yang digunakan WannaCry yang mengindikasikan bahwa ini adalah karya orang yang baru mengenal perdagangan.

Namun demikian sejauh ini belum ada pihak yang mengkonfitmasi atau memastikan siapa di balik serangan tersebut. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya