Berita

Foto/RMOL

Politik

Rekomendasi Agar Komnas HAM Lebih Profesional

MINGGU, 14 MEI 2017 | 22:27 WIB | LAPORAN:

Kinerja Komnas HAM periode 2012-2017 dinilai gagal dalam menuntaskan isu-isu pelanggaran HAM. Karenanya Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Komnas HAM menawarkan sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan kemandirian dan profesional lembaga tersebut.

"Kami rasa perlu adanya evaluasi kinerja anggota Komnas HAM. Juga evaluasi sistem dan seleksi calon anggota Komnas HAM," ujar Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati saat konferensi pers di Kantor LBH, Menteng, Jakarta, Minggu (14/5).

Menurut Asfinawati, evaluasi dianggap penting untuk memastikan bahwa calon yang terpilih oleh panitia seleksi benar-benar memahasi dan memiliki pengalaman yang luas pada bidang HAM.


"Masyarakat perlu membaca rekam jejak calon anggota Komnas HAM untuk memastikan bahwa mereka tidak akan menjadi kendala di masa depan untuk perlindungan hak asasi manusia," ujarnya.

Koalisi juga menilai, komisioner Komnas HAM sepatutnya merupakan orang yang tidak memiliki masalah hukum di masa lalu dan tidak ada kaitan apapun dengan partai politik ataupun perwakilan pemerintah.

"Terakhir, komisioner Komnas HAM harus memiliki strategi yang visioner, target yang jelas dan terobosan terhadap berbagai persoalan juga tantangan penegakan HAM yang muncul,' pungkas Asfinawati.

Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Komnas HAM, menilai LSM tersebut telah gagal menjalankan mandat untuk selesaikan persoalan HAM. Beberapa kasus terkesan jalan di tempat dan tak jelas arah penyelesaiannya hingga hari ini. Seperti kasus penyelesaian konflik di Paniai, di Aceh, hingga kasus vaksin palsu.

Adapun Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Komnas HAM terdiri dari beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM). Seperti, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi Untuk Orang Hilang dan Kekerasan (Kontras), dan beberapa LSM lainnya. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya