Berita

Fahmi Syahirul Alim/Net

Politik

Pemerintah Harusnya Buka Ruang Dialog Sebelum Bubarkan HTI

MINGGU, 14 MEI 2017 | 19:02 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Secara ide dan gagasan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang layak dibubarkan karena bercita-cita mengubah sistem negara.

Namun begitu, langkah pemerintah yang secara tiba-tiba mengumumkan pembubaran HTI patut disayangkan. Pasalnya, pemerintah tidak membuka ruang dialog dengan pihak-pihak terkait sebelum mengumumkan pembubaran.

Begitu kata peneliti dari International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) Fahmi Syahirul Alim kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu, Minggu (14/5).


Fahmi menjelaskan bahwa pemerintah harus berhati-hati dalam membubarkan sebuah institusi di negeri ini. Pembubaran, lanjutnya, harus melalui kajian yang mendalam dengan melibatkan pakar dan pihak-pihak  terkait. Ini mengingat UU melindungi hak warga negara untuk berkumpul dan berserikat.

"Jadi seharusnya pemerintah membuka ruang dialog dulu yang melibatkan tim ahli dan perwakilan HTI. Pemerintah dilarang membubarkan jika kemudian HTI mau berubah dan berkomitmen ke Pancasila dan NKRI. Tapi kalau keras kepala, maka pembubaran bisa jadi jalan keluarnya," urai aktivis muda Muhammadiyah itu.

Adapun secara konsep bernegara, HTI memang bertujuan untuk mendirikan khilafah. Sehingga hal ini bertentangan dengan konsep negara yang ada saat ini.

Seruan khilafah, lanjut Fahmi, bahkan sering didengungkan saat mengkritik berbagai kebijakan pemerintah.

"Seperti saat BBM dan tarif dasar listrik naik, mereka menyalahkan sistem negara telah usang dan tidak mengakomodir nasib rakyat. Nah di situ kemudian mereka menyusupkan sistem khilafah sebagai solusi," jelasnya.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki komitmen kuat terhadap bangsa dan selalu mencari solusi jika ada masalah di negeri ini.

"Kedua ormas moderat ini mencari solusi yang lebih konkret dengan amal usaha yang dimiliki maupun pemikiran konstruktif," pungkasnya. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya