Berita

Anton Digdoyo/Net

Politik

Memilih Pemimpin Seiman Bukan Tindakan Intoleran

MINGGU, 14 MEI 2017 | 15:21 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pemerintah harus bisa menafsirkan pasal-pasal tentang SARA, intoleran, dan makar sesuai konsideran dan penjelasan sebagaimana panduan Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita pendiri bangsa.

Begitu kata Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo dalam pencerahannya di depan Munas Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas) di Bandung, hari ini (Minggu, 14/5).

Anton mencontohkan masalah memilih di mayoritas daerah yang masyoritas muslim harus seiman, tidak boleh dikategorikan sebagai tindakan intoleran, SARA, apalagi makar.


"Demikian pula mengkritisi pemerintah, itu bukan makar, itu hak bahkan kewajiban warga negara karena pemerintah adalah abdi rakyat. Kritik terhadap pemerintah bukan hanya syarat demokrasi tapi juga jihad besar sebagaimana ajaran umat Islam," jelasnya.

Makar yang sejati, lanjutnya, adalah kelompok orang-orang yang saat ini tengah mendegradasi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menumbuhkan kembali paham komunisme.

"Ancaman komunisme di NKRI makin nyata. Jika NKRI jadi negara sekuler liberal maka ini adalah ladang suburbagi komunisme, atheis, agnostis, syiah, dan aliran-aliran sesat lainnya," pungkasnya dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Pusat yang juga purnawirawan jenderal Polri tersebut. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya