Berita

Politik

Bukan Soehartoputri, Megawati Harus Jelaskan Skandal BLBI

JUMAT, 12 MEI 2017 | 16:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan presiden Megawati Soekarnoputri diminta memberikan penjelasan yang jujur kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang mengusut skandal Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Pemberian ampunan kepada obligor nakal yang mengemplang bantuan itu dimungkinkan oleh Inpres 8/2002 yang ditandatangani Mega saat masih berkuasa.

“KPK sedang mengusut skandal ini dan sudah menetapkan Kepala BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) Syafruddin Temenggung sebagai tersangka. Tetapi kita tahu bahwa Kepala BPPN hanya bertindak berdasarkan keputusan yang dibuat oleh presiden ketika itu,” ujar Rachmawati Soekarnoputri dalam perbincangan beberapa saat lalu (Jumat, 12/5).


Rachma menambahkan, Mega tidak boleh berlindung di balik kesalahan rezim Soeharto yang memicu krisis finansial dan krisis ekonomi pada kurun 1998-1999. Sebagai orang yang paling berkuasa pada era 2001 hingga 2004, Megawati dapat mengambil tindakan yang strategis untuk menghentikan kerugiaan negara akibat kesalahan kebijakan itu.

“Tetapi yang dilakukan Mega sebaliknya, dia malah memberikan ampunan kepada obligor nakal yang bersedia menyerahkan aset. Bagaimana mungkin utang uang cash dibayar pakai aset yang nilainya bodong, sama sekali tidak setara dengan uang yang mereka ambil,” kata Mega lagi.

Selain itu, sambung Rachma, Mega merupakan titik lemah yang dapat dimanfaatkan oleh rezim global untuk menghancurkan prekonomian Indonesia. Dia mengingatkan bahwa Direktur Asia Pasifik International Monetary Fund (IMF) Hubert Neiss sudah mendekati Mega beberapa saat setelah Soeharto mengundurkan diri.

“Mega diuntungkan oleh nama besar Bung Karno di belakang namanya. Kalau dia bukan anak Bung Karno dan memiliki prospek menjadi penguasa, tidak mungkin dia didekati oleh rezim keuangan global. Sayangnya Mega mengikuti tekanan asing. Ini karena dia hanya anak biologis,” masih ujar Rachma.

Menurut hemat Rachma, Mega harusnya mengakui sejajar jujur bahwa kebijakan SKL BLBI yang sedang diusut adalah hasil karya yang ditinggalkannya selama berkuasa.

“Dia bukan Soehartoputri, jadi jangan berlindung di balik kesalahan rezim Soeharto. Akuilah kesalahannya menerbitkan SKL BLBI,” demikian Rachma. [dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Ketika Seekor Ayam Lebih Berharga dari Nyawa Seorang Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 00:21

Disoal Kader, Pergantian Pengurus AMPI Langgar Aturan Organisasi?

Senin, 27 Juli 2026 | 00:20

Inilah Skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Senin, 27 Juli 2026 | 00:00

Program Pembangunan Prabowo Memperhatikan Aspek Keberlanjutan

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:29

Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:20

‘API’ Jaringan Umat

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:01

Pakar Hukum: Tersangka Korupsi Bisa Ditetapkan Meski Belum Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:45

Kaesang Pilih Dapil Neraka Lawan Puan, Kejar Legitimasi atau Sensasi?

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:37

Kapitra Ampera Labeli Febrie Adriansyah Maling Gede

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:14

ICW Dapat Bocoran Timses Prabowo-Gibran Sodok Posisi Gantikan Ketua Ombudsman RI

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:50

Selengkapnya