Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Revolusi Karangan Bunga

MINGGU, 07 MEI 2017 | 15:08 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

ADA yang nggak beres dari badai karangan bunga galau Ahoker. Penulis Trijon Aswin mensinyalir ada proyek membenturkan TNI vs Polri. Ngeri bila itu benar. Ngeri banget. Polisi bukan tandingan TNI. Sekali sapu, berantakan.

Ahoker memang rada edan. Mereka nggak sadar sedang dijadikan umpan. Upaya memberangus TNI pernah dirilis PKI. Mereka hendak mendirikan militer versi sendiri. Buruh tani dipersenjatai. Jadi angkatan kelima. Minimal mereka ingin gantikan TNI dengan Red Army ala Soviet atau People's Liberation Army (PLA) seperti di Tiongkok.

Peta modern, komunis bersetubuh dengan taipan. Bersekutu dengan liberalis, sekular, minoritas tamak, aliran sesat, parpol merah, klub moderat, oknum aparatus kekerasan negara dan preman. Rame-rame mereka pro Ahok.


Mereka ingin dirikan negara versi mereka. Minimal bubarkan NKRI. Koyak persatuan dengan kedok kebhinekaan. Sandungan mereka adalah TNI dan umat Islam.

Batu sandungan ini mesti dilemahkan. Islam diadu-domba. Dipecah jadi Islam Moderat vs Radikal. Hantu ISIS dibawa. Supaya masyarakat dan minoritas takut. Fenomena tumbangnya Ahok diacak, diblur, dan direkayasa sebagai antagonisme Islam terhadap minoritas. Mereka dihipnotis sehingga percaya Ahok kalah karena SARA. Padahal, Ahok kalah disebabkan keliru stratak, kalkulasi dan metodologi.

Kaum myopic terpengaruh. FPI jadi target. Kyai Sobri Lubis diserang di Kalbar.

Proyek pelemahan TNI semakin kebaca. Secara simultan, mereka hendak adu domba TNI-Polri. Mereka tau tiang utama keutuhan negara sekarang ini adalah TNI-Polri. Mereka mau kerdilkan TNI. Caranya mudah, serang Panglima TNI. Bertubi-tubi. Tersistematis dan masif. Pake isue sok akademis dan ngawur. Impartial dan Hendardi dipasang.

Mereka ingin Panglima TNI yang ganas dan bersedia menghabisi kekuatan Islam. Seorang panglima yang bisa distir dan dikontrol. Karena itu mereka mencari Panglima TNI "anak mama" atau Panglimanya partai politik.

Itu tidak mereka lihat pada Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka kecewa. TNI tetap kompak dengan Polri. TNI tetap bersatu dengan rakyat.

Guna menjaga suhu panas, mereka dorong aksi ngawur karangan bunga. Ada dua target yang hendak mereka raih.

Pertama, mereka tau aksi ini bikin masyarakat muak. Itu yang mereka inginkan. Provokasi. Memancing amarah publik muslim dan Pro Anies Sandi. Kedua, memantapkan kepercayaan diri minoritas. Mereka semakin merasa benar dan jago ketika Mabes Polri tidak keberatan dibanjiri karangan bunga. Polri semestinya netral. Bunga itu, suka atau tidak, telah jadi simbol politik.

Pengusiran Kyai Sobri Lubis merupakan imbas dari kepedean ngawur sekaligus provokasi.

Disintegrasi bangsa akan terjadi. Bila muslim terpancing menyerang balik. Kebetulan Gubernur Cornelis non muslim. Perang Dayak-Melayu bisa pecah. Islam vs Non Muslim. Mayoritas mengganyang minoritas. NKRI bisa bubar. Bila Borneo konflik, daerah lain akan ikut. Tionghoa ahoker akan ditumpas. Minoritas kocar-kacir. Indonesia jadi historis.

Itukah yang mereka inginkan via karangan bunga?[***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya