Berita

Garuda Indonesia/Net

Bisnis

Ancaman Mogok Pilot Garuda Akan Rugikan Konsumen

SABTU, 06 MEI 2017 | 00:53 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ancaman pelambatan (slow down) dan mogok operasi dari segelintir oknum yang mengatasnamakan karyawan dan pilot PT Garuda Indonesia dikecam berbagai kalangan. Pasalnya, yang dipersoalkan oknum tersebut hanya masalah jabatan dan berpotensi merugikan konsumen Garuda.

Pengamat transportasi, Azas Tigor Nainggolan menilai bahwa akar dari masalah ancaman ini sesungguhnya hanya masalah pembagian kerja dan wewenang internal saja. Seperti masalah direktorat operasi dan teknik pemeliharaan.

"Jadi tidak perlu dipersoalkan terlalu baper (bawa perasaan) lah," ujarnya kepada wartawan, Jumat (5/5).
 

 
Menurutnya, permasalahan ini dibicarakan baik-baik dengan pihak komisaris dan direksi. Jika oknum pilot dan karyawan tetap memilih mogok, maka hal tersebut justru akan merugikan konsumen Garuda yang selama ini sudah percaya dan nyaman dengan maskapai milik pemerintah tersebut.
 
"Justru rencana mogok para pilot ini perlu dipertanyakan untuk pelayanan Garuda atau bagian perebutan jabatan semata? Jangan korbankan pelayanan pada konsumen hanya untuk kepentingan perebutan jabatan di internal Garuda. Saran saya nggak usah mogok. Bicarakan masalah ini di internal Garuda," paparnya.

Kecaman serupa dilontarkan karyawan PT Garuda Indonesia, Agus. Ia bahkan tidak tahu kepada siapa oknum pilot dan karyawan yang mengancam mogok itu berpihak. Agus bahkan mengaku merasa terganggu dengan ancaman ini.

"Saya menafkahi anak istri saya selama belasan tahun dari Garuda Indonesia. Kalau sampai perusahaan ini terganggu gara-gara ulah mereka, pasti akan saya tuntut biang keroknya ke pengadilan. Namun perlu diingat, ada atau tidaknya mereka, Garuda akan tetap berkibar,’’ ujarnya.
 
Perlu diketahui, Ketua Umum Serikat Karyawan Garuda (Serkaga), Ahmad Irfan dan Ketua Asosiasi Pilot Garuda (APG) Capt Bintang Hardiono mengancam melakukan mogok operasi jika keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terkait dihilangkannya jabatan Direktur Operasi dan Direktur Teknik dalam nomenklatur pimpinan tetap dilakukan.
 
Mereka juga menuding Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal sebagai pengusul bahwa Garuda tidak memerlukan Direktorat Operasional dan Direktorat Tehnik. Sementara mantan Menteri Perhubungan itu telah membantah tudingan tersebut. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya