Berita

Politik

Mentalitas Prohok

JUMAT, 05 MEI 2017 | 10:47 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

IBU Reynette semalam bilang begini, "Tau nggak Ken, di luar aktivis dan politisi, di komunitas teman-teman saya, tidak ada satu pun yang aware or care soal demo 4 November. Mereka kalangan the haves. Life goes on as usual. Nothing special."

Saya kira, kasta the haves ini juga nggak tahu atau minimal do not care soal penistaan surat Al Maidah. Mereka nonton tivi, certainly. Tapi stasiun tivi isinya cuma iklan. Total berpihak ke Ahok.

Kelompok 'sok tajir' ini disebut 'middle class ngehe'. Mereka terdiri dari pemilik toko, manajer pabrik, staff admin, makelar tanah, redaktur media dan sebagainya.


Karl Marx sebut mereka; 'petite bourgeoise' (borjuis kecil). Mereka bukan haute capitalist macam '10 Naga'. Walau mereka kepengen betul jadi high-capitalist seperti James Riyadi. Sampe kebawa mimpi. Sayang, mereka out of luck. Ironiz.

Saya tidak sreg dengan istilah 'middle class ngehe'. Aktivis LSM, komnas-komnas, lembaga pemantau dan pseudo-birokrat eks aktifis di sekitar Jokowi sekarang masuk golongan ini. Mentalitas mereka sudah serupa. Mereka sama-sama pro ahok, penista orang miskin dan Alquran. Saya lebi suka sebut mereka; 'middle class-small minded.'

Middle class ini sampah sosial. Sepanjang sejarah, mereka menjadi tiang penopang tirani. Dalam buku 'The Mass Psychology of Fascism', Wilhelm Reich menulis bahwa middle class–small minded merupakan pendukung utama kebangkitan fasisme.

Ahok jelas seorang 'little fascist'. Dan sekali lagi sejarah terulang; 'middle class ngehe' mendukung kebangkitan fasis ini.

Nggak berlebihan bila Soren Kierkegaard sampe menulis, 'the petty bourgeois is spiritless'. Ya, mereka memang ngga punya hati nurani. Mereka gembira liat Ahok menggusur orang miskin.

Selagi atmosfer politik Medan, Surabaya, Palembang, Solo panas akibat Ahok’s verbal abuse, kaum middle class ini tetep asyik shopping, clubbing, jalan-jalan di mall atau selingkuh at the gym while their husbands are working their ass off at Jl. Sudirman-Thamrin.

Sambil manicure-pedicure, mereka ngobrol. Mereka bilang, "Ahok hebat lho. Bikin kali jadi bersih. Ada tentara oranye, biru, bla bla bla…ngapain aja sich gubernur sebelumnya".

Damn, Foke dan Bang Yos kena lagi.

Mereka yakin Mas Joko dukung Ahok. Mereka percaya aparat jaga keamanan. Mereka bilang demo-demo itu goblok. Mereka lebi senang ngerumpi soal sepetak taman. Puluhan ribu massa aksi yang merupakan kekuatan politik nyata tidak pernah mereka sadari.

Mereka ngga tau kalo Kapolri, Panglima TNI, Pangdam dan Kapolda pontang-panting lobby para ulama dan pimpinan ormas. Kalangan the haves ini tetep bilang 'gazeboo'.

The middle class-small minded people ini nggak tau kalau Lieus Sungkharisma pernah protes ke Kapolri Tito. Dia bilang Ahoker menciptakan kesan Jendral Tito dekat dengan Ahok, as Ahok’s protector. Kapolri geleng-geleng kepala. Kepada Karni Ilyas, Tito juga pernah menyatakan tidak dukung Ahok secara personal.

Saya heran, sejak Tito jadi Kapolri, urusannya cuma mengamankan Ahok. Pasti puyeng. Kasian Jendral Tito. Mesti mobilisasi pasukan daerah. Sedangkan budget minim.

Di antara Ahoker middle class, yang paling berbahaya adalah mereka yang menjadi propagandis sosmed. Jenis middle class ngehe ini mungkin masuk kategori apa yang disebut Henrik Ibsen sebagai 'Enemy of the People'.

Mereka jadi 'musuh masyarakat' karena memiliki tujuh dosa borjuis kecil: Malas Mikir, Pemarah, Sombong, Doyan Makan, Tamak, Sirik, Nafsu Gede.[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya