Berita

Jusuf Kalla/Net

Politik

Ketua MPR Panaskan Suhu Politik

Ungkap Peran JK Muluskan Anies
KAMIS, 04 MEI 2017 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tensi politik Jakarta sebenarnya mulai mendingin usai Pilkada DKI. Tapi tiba-tiba saja, Ketum MPR, Zulkifli Hasan bercerita ada peran Wapres Jusuf Kalla di balik pencalonan Anies Baswedan. Politik pun kembali ramai.

Zulkifli membuka peran JK di balik pencalonan Anies itu dibeberkan saat berpidato di seminar nasional kebangsaan Gerakan Mubaligh dan Sosialisasi Empat Pilar MPRRI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5) lalu. Mulanya, kata Zulkifli, tak ada partai yang mau mengusung Anies. "Dulu ,terus terang, saudara Anies itu tidak ada yang mau. Ini saya buka rahasianya," kata Zulkifli.

Saat itu, medio September 2016, terdapat enam partai menggadang sosok pengacara Yusril Ihza Mahendra menjadi jagoan di Pilgub DKI. Enam partai: Demokrat, PAN, PKB, PPP, Gerindra, dan PKS. Sedang Sandiaga Uno menjadi cawagubnya. "Calon itu Yusril, Sandi, sudah. Dihitung-hitung enggak menang. Sampai jam 12 malam sebelum pendaftaran. Maka dicarilah kesepakatan enam partai itu," bebernya.


Seperti diketahui, awalnya enam partai ini tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan. Belakangan, kongsi ini pecah lantaran PKS dan Gerindra mundur teratur dan sempat mengusung Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera, 9 September 2016.

Nah, pecah kongsi pun terjadi, Demokrat, PAN, PKB, dan PPP tergabung dalam koalisi Cikeas dan memutuskan mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Sylviana Murni, dan belakangan Gerindra-PKS mengusung Anies-Sandi, bukan Sandi-Mardani.

Peristiwa politik ini coba diceritakan kembali oleh Zulkifli. Selaku Ketum PAN, Ketum MPR ini ikut wara-wiri di hari krusial tepatnya 21-23 September, hari pendaftaran Pilgub DKI Jakarta.

Nah saat itu, Zulkifli bercerita enam partai sebelum terpecah ini sempat membidik sosok pengusaha Chairul Tanjung. Namun Chairul menolak karena bisnisnya tengah susah. Di saat krusial itu, Ketum Demokrat, SBY mengambil sikap, dia menyodorkan nama anaknya, AHY.

Awalnya, Ketum Gerindra Prabowo Subianto sempat menyanggupi tawaran tersebut. Namun dengan syarat Sandiaga sebagai calon gubernurnya. Sebab, Sandiaga sudah lama bergerak untuk maju ke Pilgub DKI.

Namun, pada Pukul 21.00 WIB sebelum pencalonan calon gubernur dan wakil gubernur, Sandiaga mendatangi kediaman Zulkifli di Widya Chandra untuk menyatakan kesediaannya menjadi calon wakil gubernur untuk Agus.

"Waktu itu dia bilang enggak apa-apa saya jadi wakil tapi pertemukan Pak Prabowo dengan Pak SBY," tutur Zulkifli menirukan pernyataan Sandiaga saat itu.

"Nah, saya tahu kalau Pak Prabowo, Pak SBY ketemu mesti ada jaminan lima tahun selesai. Kira-kira itu isinya. Sehingga tak jadi ketemu, sudah putus AHY. Di sini ya sudah Sandi sama Mardani (Ali Sera)," sambung Zulkifli.

Di situlah peta politik berubah. Prabowo akhirnya menyetujui Anies sebagai calon gubernur. Itu, ujar Zulkifli, atas intervensi Wakil Presiden Jusuf Kalla. "Jam 12 malam sampai jam 1 pagi itu ada intervensinya Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh enggak ngaku, saya dengar kok teleponnya. Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubah lah," ucap Ketua MPR RI itu.

Saat itu pihak SBY sudah terlanjur mau mengumumkan akan mengusung AHY dan Sylviana Murni. Sehingga pihak SBY dan Prabowo tak berada di satu koalisi. Namun, kesepakatan tetap dibangun antara partai pengusung Anies-Sandi maupun partai pengusung AHY-Sylvi bahwa harus ada perubahan di Jakarta.

"Karena kami enggak sanggup gubernur yang gaduh terus, sudah enggak sanggup dah. Orang Betawi bilang udah enggak tahan dah. Jadi sepakat kita mesti ada gubernur baru," ucap Zulkifli. "Jadi kalau kami menang, yang sana gabung. Kalau sana menang, kami yang gabung. Janji laki-laki," tuturnya.

Pernyataan Zulkifli ini sontak menjadi heboh. Waketum Gerindra Fadli Zon buru-buru membantah. Namun Fadli mengakui membutuhkan dukungan banyak pihak dalam pencalonan tersebut, termasuk dari JK. "Kami kan harus dapat dukungan dari mana-mana saja. Tapi kami berharap termasuk dukungan dari JK dan dari mana-mana bagus kan," ujar Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.Fadli menjelaskan, justru dirinyalah salah satu pengusul agar Anies dicalonkan menjadi calon gubernur. Usul ini disampaikannya lewat forum yang dihadiri Gerindra dan PKS, tiga hari sebelum penutupan masa pendaftaran. "Lalu saya telepon Anies Rabu malam, Kamis pagi bertemu dengan Sandi, Jumat malam sudah diumumkan," tuturnya

Bagaimana pendapat para kandidat, Anies-Sandi. Keduanya kompak tidak berbicara banyak. Cagub Anies Baswedan menegaskan tak mengetahui adanya intervensi JK di balik pencalonannya sebagai Cagub. "Nggak tahu saya, saya nggak terlibat," kata Anies di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5).

Anies mengatakan proses pencalonannya berawal dari panggilan Partai Gerindra terhadapnya. Berbagai pihak yang ada di lingkup internal Gerindra menurutnya lebih mengetahui cerita di balik pencalonannya. "Saya dipanggil oleh Gerindra, tapi di dalamnya seperti apa, itu yang tahu teman-teman di Gerindra," tuturnya.

Menanggapi cerita Zulkifli, Anies menyatakan justru proses komunikasi yang terjalin saat-saat itu jauh lebih rumit. "Cek saja dengan para pelaku, karena kalau saya tidak terlibat di situ," ucapnya.

Anies menyebutkan, dalam proses pencalonannya, dia hanya berkomunikasi dengan cawagub Sandiaga dan Gerindra. "Iya saya tahunya dengan Bang Sandi dengan Gerindra," ucapnya.

Sementara Sandi, masih merahasiakan soal terpilihnya Anies sebagai cagub dan dirinya turun jadi cawagub. Menurutnya, semuanya akan dia buka melalui buku yang sedang ditulisnya. Kisah itu, akan diceritakan saat buku itu diterbitkan. "Itu politik tingkat tinggi. Saya fokus di Jakarta saja," kata Sandiaga di Jalan Melawai, Jakarta Selatan, kemarin.

Bagaimana pendapat JK? Jubir Wapres JK, Husain Abdullah menjelaskan yang dilakukan JK saat itu bukan intervensi, tetapi sebatas konsultasi politik. "Pak JK memberi pertimbangan dalam momen politik kebangsaan yang penting dan tentu layak didengarkan karena pengalaman dan intuisinya yang tajam," ujar Husain kepada wartawan kemarin.

Pengamat politik dari Universitas Parahiyangan (Unpar) Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf menyatakan ucapan Zulkifli dapat berimplikasi atas panasnya suhu politik. Namun, tindakan ini termasuk wajar lantaran adanya gubernur baru di Jakarta. "Pak Zul cerita intervensi JK wajar saja, ini hanya evaluasi," ujar Asep.

Asep menceritakan, hal biasa jika setelah ada tindakan politik lahir pernyataan politik. Dalam hal ini, kata Asep, Zulkifli seolah bercerita kalau partainya, PAN, memiliki andil dalam perjuangan terpilihnya Anies-Sandi. "Ya walaupun PAN dukung AHY saat itu kan. Ini naluri politisi saja," katanya. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya