Berita

PT Barito Pacific Tbk/Net

Bisnis

Barito Pacific Berpotensi Rp 6.000 Per Saham

KAMIS, 27 APRIL 2017 | 19:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Analis pasar memperkirakan harga saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) akan mengalami kenaikan seiring langkah perseroan memperkuat fokus bisnisnya dengan berekspansi ke sektor pembangkit listrik geothermal. 

"Harusnya harga wajar BRPT di bursa sekitar Rp 6.000 per saham," ujar Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang kepada wartawan, Rabu (26/4).

Menurut dia, langkah korporasi BRPT mengakuisisi mayoritas saham ‎Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL) akan menjadikan bisnis BRPT lebih kuat. Dengan begitu sumber pendapatan ke perseroan menjadi lebih beragam, yakni dari sektor pembangkit listrik panas bumi dan petrokimia.

Belum lagi, perseroan  juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) untuk mendapatkan pinjaman sekitar 300 juta dolar AS dari sindikasi bank.‎

"Secara profit semakin bagus. Karena revenue akan semakin besar, dan net profit akan semakin besar karena akan ‎semakin bagus," katanya.

Sebagaimana diketahui, BRPT telah memperoleh fasilitas pinjaman sebesar USD250 juta dari Bangkok Bank Public Company Limited.‎ Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.‎
‎
Saat ini, BRPT merupakan pemegang saham pengendali  di TPIA, yang selama ini menjadi penopang utama  kinerja bisnis dan saham perseroan.‎ Sebagaimana diketahui, tiap tahunnya Chandra Asri memperoleh kinerja yang positif. Pada tahun 2016, laba bersih TPIA mencapai 300 juta dolar AS, atau naik seribu persen dari posisi laba 26,33 juta dolar AS.
‎
Menurut Edwin, ketika BRPT, Star Energy dan TPIA bergabung menjadi satu untuk fokus dalam mengelola geothermal, maka bisa membangun pembangkit listrik di Indonesia dari sumber alternatif, selain yang sudah ada saat ini. ‎

Sebagaimana diketahui, BRPT telah memperoleh fasilitas pinjaman sebesar USD250 juta dari Bangkok Bank Public Company Limited.‎ Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.‎
‎
Saat ini, BRPT merupakan pemegang saham pengendali  di TPIA, yang selama ini menjadi penopang utama  kinerja bisnis dan saham perseroan.‎ Sebagaimana diketahui, tiap tahunnya Chandra Asri memperoleh kinerja yang positif. Pada tahun 2016, laba bersih TPIA mencapai 300 juta dolar AS, atau naik seribu persen dari posisi laba 26,33 juta dolar AS.
‎
Menurut Edwin, ketika BRPT, Star Energy dan TPIA bergabung menjadi satu untuk fokus dalam mengelola geothermal, maka bisa membangun pembangkit listrik di Indonesia dari sumber alternatif, selain yang sudah ada saat ini. ‎

Analis senior dari Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berpendapat transformasi bisnis yang dilakukan Barito akan sukses jikalau melihat BRPT mengakuisisi Star Energy.

"Dari perkayuan ke sumber daya alam dia ke arah bahan dasar karet sintetis. Dengan masuknya Star Energy akan masuk bisnis energi. Maka menambah added value. Saham Star Energy ke BRPT maka akan lebih solid," terang Reza.

Ke depan, kata Reza, pelaku pasar tetap optimis dengan kinerja saham BRPT. Namun, lebih optimis ketika Star Energy meraih nilai kontrak yang nyata untuk dijalankan pada tahun ini maupun yang akan datang.

"Dengan masuknya Star Energy, maka target harga beli untuk pelaku pasar di hari ini sebesar Rp 4.000 per saham. Ini kan pasar diperkirakan akan merespon baik, setelah tuntas akuisisi," ‎pungkas Reza.‎ [dem]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya