Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia sepanjang kuartal pertama tahun ini mencatatkan surplus sebesar 3,92 miliar dolar AS. Angka tersebut melesat 137,6 persen dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar 1,65 miliar dolar AS.
Peningkatan surplus terutama didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 20,83 persen dari 33,6 miliar dolar AS menÂjadi 40,6 miliar dolar AS. Ekspor tersebut, terutama diÂtopang oleh ekspor industri pengolahan dan peningkatan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil /CPO) pada sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. ementara itu, total impor di kuartal pertama tahun ini juga naik, kendati sedikit lebih rendah, yakni sebesar 14,84 persen menjadi 36,68 miliar dolar AS.
"Ini yang tertinggi sejak Januari-Maret 2012. Kami berÂharap, peningkatan surplus ini juga berimbas ke peningkatan pertumbuhan ekonomi," ujar Kepala BPS Suhariyanto daÂlam jumpa pers di kantornya, Jakarta, kemarin.
Adapun khusus Maret 2017, lanjut Suhariyanto, surplus neraca perdagangaan tercatat sebesar 1,23 miliar dolar AS. Surplus tersebut turun, dibandingkan surplus pada Januari dan Februari yang masing-masing tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS dan 1,32 miliar dolar AS. Namun, surplus tersebut meningkat drastis jika dibanding Maret tahun lalu yang hanya sebesar 508,3 juta dolar AS.
"Neraca volume perdagangan Maret mengalami surÂplus 33,92 juta ton. Hal ini didorong oleh surplus neraca sektor non-migas 34,61 juta ton. Namun, neraca volume perdagangan sektor migas deÂfisit 0,69 juta ton," katanya.
Suhariyanto merincikan, ekspor Maret tercatat sebeÂsar 14,59 miliar dolar ASatau meningkat 15,68 persen dibandingkan Februari 2017 yang hanya sekitar 12,62 miliar dolar AS. Capaian ekspor terseÂbut tertinggi secara bulanan seÂjak Januari 2015. eningkatan ekspor tersebut didorong ekspor minyak dan gas (miÂgas) yang naik 23,56 persen dibandingkan bulan sebelumÂnya menjadi 1,48 miliar dolar AS. Kenaikan tersebut seiring kenaikan harga minyak mentah dan gas masing-masing sebesar 3,9 persen dan 2,8 persen.
Sementara itu, ekspor non-migas tercatat naik 14,86 persen menjadi 13,11 miliar dolar ASditopang peningkaÂtan volume ekspor, khususnya pada bahan bakar mineral ke India dan ekspor bijih besi ke Filipina.
Kemudian soal impor, SuÂhariyantyo mencatat impor Maret 2017 sebesar 13,36 miliar dolar ASnaik sebesar 17,65 persen dibandingkan Februari 2017 11,35 miliar dolar AS atau naik 18,19 persen (yoy). Peningkatan didorong oleh impor non migas dari sisi nilai, seiring peningkatan impor mesin dan pesawat meÂkanik serta mesin dan peralatan mekanik. Adapun peningkatan juga terjadi pada impor gas sebesar 13,26 persen.
"Seperti halnya ekspor, nilai impor Maret 2017 merupakan yang tertinggi sejak Januari 2015. Jadi, untuk Maret ini, baik ekspor dan impor keduanya tertinggi sejak Januari 2015," ungkapnya.
Berdasarkan komposisinya, impor terbesar masih berasal dari bahan baku/penolong yang tumbuh 18,05 persen menjadi 27,74 miliar dolar AS. Disusul oleh barang modal yang tumbuh 6,52 persen menjadi 5,83 miliar dolar AS, dan barang konsumsi yang meningkat 4,75 persen menjadi 3,31 miliar dolar AS.
Dengan begitu, porsi impor bahan baku/penolong tercatat sebesar 75,62 persen, barang modal 15,35 persen, dan baÂrang konsumsi 9,03 persen.
Deputi Bidang Statistik DisÂtribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo menilai, kenaikan impor Maret 2017 terjadi lanÂtaran adanya persiapan puasa dan lebaran 2017. Menurutnya, terjadi kenaikan kebutuhan bahan baku seperti daging sapi dan bahan baku plastik.
"Saya kira karena antisiÂpasi. Kan bahan baku plastik misalnya harus dilakukan sekaÂrang. Kan untuk bikin bungkus mainan, bungkus makan mesti disiapkan sekarang," ujarnya.
Dia memproyeksikan keÂnaikan impor juga terjadi pada April 2017. Hal tersebut juga masih terkait peningkaÂtan kebutuhan bulan RamaÂdhan. ***