Berita

Foto/Net

Bisnis

Persiapan Stok Jelang Puasa Bikin Impor Maret Naik

Neraca Kuartal I-2017 Surplus
SELASA, 18 APRIL 2017 | 10:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia sepanjang kuartal pertama tahun ini mencatatkan surplus sebesar 3,92 miliar dolar AS. Angka tersebut melesat 137,6 persen dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar 1,65 miliar dolar AS.

Peningkatan surplus terutama didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 20,83 persen dari 33,6 miliar dolar AS men­jadi 40,6 miliar dolar AS. Ekspor tersebut, terutama di­topang oleh ekspor industri pengolahan dan peningkatan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil /CPO) pada sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. ementara itu, total impor di kuartal pertama tahun ini juga naik, kendati sedikit lebih rendah, yakni sebesar 14,84 persen menjadi 36,68 miliar dolar AS.

"Ini yang tertinggi sejak Januari-Maret 2012. Kami ber­harap, peningkatan surplus ini juga berimbas ke peningkatan pertumbuhan ekonomi," ujar Kepala BPS Suhariyanto da­lam jumpa pers di kantornya, Jakarta, kemarin.


Adapun khusus Maret 2017, lanjut Suhariyanto, surplus neraca perdagangaan tercatat sebesar 1,23 miliar dolar AS. Surplus tersebut turun, dibandingkan surplus pada Januari dan Februari yang masing-masing tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS dan 1,32 miliar dolar AS. Namun, surplus tersebut meningkat drastis jika dibanding Maret tahun lalu yang hanya sebesar 508,3 juta dolar AS.

"Neraca volume perdagangan Maret mengalami sur­plus 33,92 juta ton. Hal ini didorong oleh surplus neraca sektor non-migas 34,61 juta ton. Namun, neraca volume perdagangan sektor migas de­fisit 0,69 juta ton," katanya.

Suhariyanto merincikan, ekspor Maret tercatat sebe­sar 14,59 miliar dolar ASatau meningkat 15,68 persen dibandingkan Februari 2017 yang hanya sekitar 12,62 miliar dolar AS. Capaian ekspor terse­but tertinggi secara bulanan se­jak Januari 2015. eningkatan ekspor tersebut didorong ekspor minyak dan gas (mi­gas) yang naik 23,56 persen dibandingkan bulan sebelum­nya menjadi 1,48 miliar dolar AS. Kenaikan tersebut seiring kenaikan harga minyak mentah dan gas masing-masing sebesar 3,9 persen dan 2,8 persen.

Sementara itu, ekspor non-migas tercatat naik 14,86 persen menjadi 13,11 miliar dolar ASditopang peningka­tan volume ekspor, khususnya pada bahan bakar mineral ke India dan ekspor bijih besi ke Filipina.

Kemudian soal impor, Su­hariyantyo mencatat impor Maret 2017 sebesar 13,36 miliar dolar ASnaik sebesar 17,65 persen dibandingkan Februari 2017 11,35 miliar dolar AS atau naik 18,19 persen (yoy). Peningkatan didorong oleh impor non migas dari sisi nilai, seiring peningkatan impor mesin dan pesawat me­kanik serta mesin dan peralatan mekanik. Adapun peningkatan juga terjadi pada impor gas sebesar 13,26 persen.

"Seperti halnya ekspor, nilai impor Maret 2017 merupakan yang tertinggi sejak Januari 2015. Jadi, untuk Maret ini, baik ekspor dan impor keduanya tertinggi sejak Januari 2015," ungkapnya.

Berdasarkan komposisinya, impor terbesar masih berasal dari bahan baku/penolong yang tumbuh 18,05 persen menjadi 27,74 miliar dolar AS. Disusul oleh barang modal yang tumbuh 6,52 persen menjadi 5,83 miliar dolar AS, dan barang konsumsi yang meningkat 4,75 persen menjadi 3,31 miliar dolar AS.

Dengan begitu, porsi impor bahan baku/penolong tercatat sebesar 75,62 persen, barang modal 15,35 persen, dan ba­rang konsumsi 9,03 persen.

Deputi Bidang Statistik Dis­tribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo menilai, kenaikan impor Maret 2017 terjadi lan­taran adanya persiapan puasa dan lebaran 2017. Menurutnya, terjadi kenaikan kebutuhan bahan baku seperti daging sapi dan bahan baku plastik.

"Saya kira karena antisi­pasi. Kan bahan baku plastik misalnya harus dilakukan seka­rang. Kan untuk bikin bungkus mainan, bungkus makan mesti disiapkan sekarang," ujarnya.

Dia memproyeksikan ke­naikan impor juga terjadi pada April 2017. Hal tersebut juga masih terkait peningka­tan kebutuhan bulan Rama­dhan. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya