Berita

Politik

Kampanye Jakarta Bersyariah Dianggap Mubazir

SELASA, 18 APRIL 2017 | 01:42 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Semangat untuk menegakkan syariat Islam di Jakarta adalah sesuatu yang mubazir atau sia-sia.

Demikian disampaikan salah satu tokoh muda intelektual muslim, Mohammad Monib, dalam siaran persnya (Senin, 17/4).

Monib mengungkapkan hal itu menyusul kampanye Jakarta Bersyariah oleh sejumlah Ormas yang memanfaatkan momentum Pilkada DKI Jakarta.


Monib menjelaskan, banyak alasan rasional untuk menyebut Jakarta Bersyariah sebagai program mubazir.

“Dalam bahasa Nabi, Da'ma yuribuka ila ma la yuribuka. Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada hal-hal yang penuh kepastian,” kata aktivis Indonesia Conference on Religion and Peace ini.

Monib yang pernah mengajar di Universitas Paramadina malah bertanya-tanya adakah model "negara syariat" yang Rasul contohkan.

Dijelaskannya bahwa Madinah adalah "negara sekuler" dalam arti Rasul mengelolanya secara rasional, ramah kebhinnekaan, disatukan berdasarkan komitmen sosial dan kebangsaan  demografi muslim, Yahudi dan Paganistik.

Menurut Monib, syariah merupakan proses dan esensi keislaman; yaitu menegakkan keadilan, keamanan, kesejahteraan, kebersamaan ketentraman, keharmonisan dan non-diskriminatif.

Syariah, masih menurut Monib, juga berarti tidak ada warga negara kelas dua.

“Semua warga setara dalam hukum keadaban dan beradab," tegasnya.

Monib menyebut pengusung Jakarta Bersyariah memakai kacamata kuda.

“Tolong sebutkan mana negara bersyariah yang kreatif, inovatif, teknologi dan ipteknya maju? Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi?Tolong tengok kondisi keamanan dan ketentraman di negara itu. Jauh kalah dalam semua bidang dari negara-negara sekuler,” terangnya.

Dia menekankan lagi bahwa mengusung slogan Jakarta Bersyariah merupakan kemunduran nalar dan tidak realistis melihat peradaban modern.

"Jangan jadikan Jakarta model Kabul dan Karachi. Mengerikan dan memalukan,” tegas Monib. [ian]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Catat 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:20

Implementasi PP Tunas Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:13

Gelombang Aksi “No Kings” Meledak di Seluruh AS, Tuntut Trump Lengser

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:25

87 Persen Penyelenggara Negara Sudah Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:22

Kejagung Bongkar Praktik Tambang Ilegal Samin Tan

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:01

Pramono Upayakan Tak Ada PHK di Tengah Wacana Pembatasan Belanja Pegawai

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:46

Pemerintah Wajibkan Platform Digital Patuhi PP Tunas Tanpa Kompromi

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:32

Kemenhaj Optimistis Operasional Haji 2026 Sesuai Rencana

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:10

WFH Jumat Bisa Ciptakan Life Balance dan Tetap Produktif

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:30

Pemprov DKI Dukung Program Presiden soal Hunian Layak Warga Rel

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:15

Selengkapnya