Berita

Sri Mulyani/net

Politik

Sri Mulyani Gagal Memahami Nawacita Jokowi

SABTU, 15 APRIL 2017 | 14:38 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dan Menko Perekonomian, Darmin Nasution, gagal memenuhi harapan Presiden Joko Widodo untuk merealisasikan Nawacita di tataran praksis.

Demikian dikatakan analis politik, Lukman Hakim, S.Sos., M.Si, saat diwawancara redaksi, beberapa saat lalu (Sabtu, 15/4). Lukman mengatakan, maksud Jokowi menggaungkan Nawacita sejak masa kampanye Pilpres adalah agar agenda tersebut menjadi agenda politik utama dan instrumen etika pemerintahannya kelak.

"Yang ini belum terwujud. Para menteri belum memahami Nawacita Jokowi. Saya melihat pemahaman tersebut tidak terealisasi di kementerian-kementerian," ungkap Lukman.  


Salah satu menteri yang paling vital dan tampak gagal mengejawantahkan Nawacita adalah Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Hal ini terlihat nyata dalam program Tax Amnesty.

Di mata Lukman, Sri Mulyani dan Darmin Nasution seolah terlalu asyik memberi "angin surga" kepada para konglomerat, tetapi mereka melupakan tujuan utama program tersebut yaitu membangun perekonomian dari bawah.

"Sri Mulyani dan Darmin belum berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi di 7 persen karena sibuk menarik pajak dan mengampuni konglomerat, tetapi lupa tujuannya. Buat apa meningkatkan pendapatan pajak kalau tidak membawa kesejahteraan buat rakyat kecil," kata pengajar di Universitas Moestopo (Beragama) ini.

Lukman yakin Jokowi sendiri tidak puas dengan pencapaian tax amnesty karena secara riil pertumbuhan ekonomi tidak meningkat. Tax amnesty seolah sekadar "meninabobokan" rakyat dengan slogan pajak untuk rakyat

"Perintah Jokowi yang paling jelas itu adalah mampu mencari solusi alternatif untuk pertumbuhan ekonomi. Bukan sekadar pertumbuhan di atas, tapi dari bawah. Artinya, sektor informal bisa tumbuh. Dari sudut pandang politik, saya lihat para menteri ekonomi tidak bisa menerjemahkan," ucap Lukman.
 
Lukman sendiri memahami Nawacita Jokowi berpihak kepada keseluruhan komponen ekonomi, terutama UMKM dan kelompok ekonomi informal. Kelompok ekonomi ini yang seharusnya jadi "ibu" dari ekonomi nasional.

Dari pengamatan politiknya, Lukman menganggap waktu sekarang ini adalah yang terbaik untuk melakukan perombakan kabinet. Menurut dia, persoalan kesenjangan ekonomi dan kemiskinan sangat berkorelasi dengan isu radikalisme dan SARA yang mengancam persatuan nasional saat ini.

"Lebih cepat, lebih tepat.Jangan sampai didahului kepentingan yang merongrong pemerintahan. yang menyebarkan isu radikalisme, anti kebihnnekaan. Saat ini bangsa kita mudah sekali dimasuki isu-isu itu. Radikalisme itu akibat kemiskinan dan ekonomi rakyat bawah tidak berjalan," tutup Lukman. [ald]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya