Berita

Politik

Jokowi Bisa Jalankan "Tri Sakti"

Sri Dubes, Darmin Mundur
SELASA, 11 APRIL 2017 | 12:43 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

UNTUK memulihkan situasi ekonomi dan politik Jokowi diharapkan secepatnya banting stir dan melaksanakan "Tri Sakti".

What is Tri Sakti? Apa yang dimaksud dengan "Tri Sakti" di sini?

Pertama, jadikan Sri Mulyani duta besar di Amerika. Kedua, copot Darmin dari posisi Menko Ekonomi, dan ketiga tuntaskan kasus terdakwa penista agama, Ahok, secara benar-benar adil, misalnya dengan menjadikannya duta besar di negara yang sesuai dengan karakternya seperti di Afrika. Tuntutan seperti ini bukan lelucon karena menggambarkan situasi kebatinan masyarakat dan keinginan masyarakat yang sebenarnya.


Sekarang seperti diketahui perekonomian nasional tidak lebih baik dari sebelumnya. Prestasi Sri dan Darmin ternyata isapan jempol belaka dan sekedar bumbu-bumbu pencitraan. Waktu ditantang Jokowi meningkatkan pertumbuhan ekonomi supaya 5,3 persen, Sri hanya sanggup 5,1 persen. Iki opo artine? Padahal Asia Development Bank memperkirakan bisa tumbuh 5,3 persen dan Bank Dunia 5,2 persen.

Menko Ekonomi Darmin dan Menkeu Sri Mulyani merupakan contoh "orang-orang yang tidak jelas sejarahnya". Bagaimana pemikirannya dan apa jalan perjuangannya untuk membela rakyat dan bangsa. Meski keduanya pernah berkali-kali jadi pejabat. Sri Mulyani dilambungkan dalam agenda setting sebagai Menkeu terbaik Asia, tokoh berpengaruh, dan seterusnya. Meski ada keterkaitan Sri dan Darmin dalam Skandal Century.

Apa yang dimaksud dengan ‘’sejarah yang tidak jelas’’ di dalam tulisan ini?

Sejarah yang dimaksud adalah reputasi, track record, prestasi, totalitas keberpihakan kepada rakyat, integritas moral, dedikasi kepada kepentingan rakyat dan bangsa, bukan kepada kekuasaan atau penguasa. Seperti halnya tabiat para priyayi era kolonial dimana lidahnya menjilat ke atas, kakinya menginjak ke bawah.

Kenapa saat ini ada fenomena ‘’tokoh-tokoh dengan sejarah yang tidak jelas?

Karena jurnalisme (kewartawanan) kita saat ini mengedepankan public figur bukan role model. Role model adalah panutan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia role model sama artinya dengan teladan atau contoh baik, yang patut untuk ditiru, berkaitan dengan kelakuan, tindakan, perbuatan, atau sifat-sifat yang baik.

Tokoh-tokoh besar, menteri-menteri besar, yang meninggalkan legacy yang berguna buat rakyat dan bangsa adalah role model. Tokoh-tokoh besar yang berjasa bagi kebaikan rakyat merupakan role model. Sedangkan public figur belum tentu merupakan role model. Public figur adalah orang yang dikenal oleh masyarakat umum lebih karena citra fisik dan impresi (kesan) belaka.

Kini hampir di semua sektor dan profesi kita tidak memiliki role model. Di kabinet, di lapangan jurnalistik, di bidang kedokteran, di sektor hukum, kebudayaan, dan seterusnya. Menteri-menteri Jokowi saat ini umumnya juga bukan role model.

Sri dan Darmin justru merupakan batu sandungan buat Jokowi. Keputusan Jokowi tidak menyerahkan posisi ketua sidang tahunan IMF-Bank Dunia kepada Sri Mulyani atau Darmin jelas dibaca publik sebagai ketidakpercayaan Jokowi kepada dua figur bermazhab neolib itu.

Sejauh ini Sri dan Darmin di kabinet tidak membuat sejarah yang signifikan apalagi sejarah yang bersifat monumental, yang bersifat terobosan atau out of the box. Keduanya hanya bikin story belaka, belum history.

Sri & Darmin ibarat rantai jangkar yang harus diputus oleh Jokowi kalau mesin besar kapal Indonesia ini masih hendak dibawa berlayar menuju samudera perubahan. Ketimbang karam akibat salah urus ekonomi.

Reshuffle mutlak harus dilakukan.

Sedang batu sandungan lain yang mengganduli Jokowi adalah kasus terdakwa Ahok sang penista agama. Kasus yang penanganannya terkesan bertele-tele ini ibarat torpedo atau ranjau magnetik dalam Perang Eropa, punya daya luluh lantak menghancurleburkan apa yang selama ini dijaga oleh bangsa dan yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa, yaitu persatuan dan kesatuan serta toleransi & kerukunan beragama. [***]

Penulis adalah Wartawan Senior Rakyat Merdeka

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya