Berita

Politik

Video Hitam

SENIN, 10 APRIL 2017 | 17:31 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

VIDEO hitam Ahok Jarot dirilis bertepatan dengan keluarnya imbauan Kepala Suku Tionghoa H. Jusuf Hamka.

Jusuf adalah anak angkat Buya Hamka. Teman dekat Jend. Yunus Yosfiah. Pernah mendirikan partai politik. Ex komisaris Indosiar. Dia menasehati agar orang-orang Tionghoa tahu diri, tidak arogan, jangan bablas bela Ahok. Menurutnya, ada yang salah di pilkada kali ini. Ada bara dalam sekam, di grassroot. Bila tidak dimanage dengan benar, Kerusuhan Mei 98 bisa meletus. Bahkan bisa lebih parah.

Video hitam kampanye Ahok Jarot menampilkan slide spanduk "Ganyang Cina". Enggak ada spanduk macam itu ketika Kerusuhan Mei 98 meledak. Saya kira ini ekspresi ahistoris. Bisa dipahami. Ahok dan Jarot bukan orang Jakarta. Mereka mungkin tidak di sini kala itu.


Mei 98 adalah kembang api revolusi. Sisi negatif peristiwa politik. Ekspresi kemarahan sosial. Keruntuhan finansial regional. Tionghoa mengalami imbas sebagai collateral damage. Target utama kerusuhan adalah menumbangkan Presiden Suharto.

Jadi keliru bila Ahok Jarot mengilustrasikan Mei 98 sebagai anti chinese riot.

Mei 98 tidak sama dengan kerusuhan Sampit dan Sambas. Di Jakarta, Tionghoa tidak disasar seperti Madura di Kalbar. Pada Peristiwa Mei 98, toko-toko dan rumah mewah dijarah massa yang mulai kesulitan bahan pangan. Alas, mayoritas pemiliknya memang etnik Tionghoa. Tapi rumah saya dijaga unsur Forkabi. Tetangga pun tidak ada yang usik keluarga saya.

Bila Mei 98 adalah kerusuhan rasial seperti anti madura riot di Kalbar, maka siapa pun Tionghoa, mau kaya atau miskin, akan dibantai. Nyatanya tidak.

Menurut Chairman Mao, ada faktor external dan internal dalam semua fenomena. Saya kira, anatomi Mei riot juga memiliki kedua faktor tersebut.

Faktor external berupa jatuhnya rupiah akibat permainan Soros. Adanya korban dari etnik Tionghoa dengan segala propertinya harus ditilik sebagai imbas dari faktor internal. Seperti yang dijelaskan Chairman Mao di risalah On Contradiction (Agustus 1937).

Di sini, imbauan Jusuf Hamka jadi relevan. Tionghoa harus evaluasi diri. Bila tidak ingin jadi korban sampingan dari sebuah revolusi. Mestinya Tionghoa di Indonesia bisa lakukan itu. Sejarah berulang kali mengajarkan arogansi, tidak tahu diri, ekslusifisme dan ketamakan Tionghoa selalu menyuburkan dendam sosial.

Di belahan dunia lain, di berbagai era, Tionghoa kerap jadi sasaran. Snake River Massacre (1887), Tacoma riot of 1885, Vancouver 1886, Salomon 2006 dan lain sebagainya. Sebabnya ya itu tadi.

Pasca kemerdekaan, di beberapa tempat, Tionghoa pernah jadi sasaran. Peristiwa Gedoran China di Balaraja tahun 1945-46 misalnya. Sebabnya bukan karena sentimen rasial an sich. Selama masa pendudukan Belanda, banyak Tionghoa berkomplot dengan penjajah. Demikian pula pasca G30S. Tionghoa seakan kembali jadi target amarah. Sebabnya, ketika Sukarno dan PKI berkuasa, banyak Tionghoa ikut-ikutan jadi hard liner komunis. Mereka jadi anggota Baperki, pengurus PKI, ajudan Sudisman dan berani menyerang Angkatan Darat. Mereka kira sudah kuat, dibeking Panglima Besar Revolusi dan kader PNI (leluhur PDIP).

Saat ini, saat Ahok berkuasa, kembali Tionghoa lupa diri. Kebangetan arogansi dan kebablasannya. Mereka membela penista Al Quran, penggusur pribumi, terlibat berbagai kasus korupsi dan keburukan lain.

Video hitam Ahok Jarot mestinya kembali mengingatkan Tionghoa untuk bersikap simpatik dan rendah hati. Jangan pilih gubernur model Ahok sekali pun dia etnik Tionghoa. Keberagaman enggak pernah berarti memilih gubernur cina. Justru slogan "cina pilih cina" itu merupakan penghianatan atas falsafah Bhineka Tunggal Ika.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya