Berita

Salah satu anak korban serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun/SN4HR

Dunia

Tidak Ada Bukti Kuat Rusia Mendukung Serangan Senjata Kimia

SABTU, 08 APRIL 2017 | 07:10 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan peran Rusia di balik serangan senjata kimia di kawasan Khan Sheikhoun Suriah. Serangan itu menewaskan paling sedikit 80 orang, separuhnya terdiri dari anak-anak kecil.

Serangan kimia itulah yang menjadi alasan militer Amerika Serikat meluncurkan rudal Tomahawk ke pangkalan angkatan udara Suriah, Shayrat Airfield.

Dipercaya bahwa senjata kimia yang membunuh warga sipil itu adalah gas saraf sarin yang dapat merusak sistem saraf dalam hitungan detik. Para pejabat militer AS menuduh serangan itu dilakukan militer Suriah yang sedang putus asa.


Dua pejabat militer AS yang memberi penjelasan kepada wartawan, mengatakan, pihaknya memiliki gambaran jelas soal siapa yang melakukan serangan senjata kimia pada Selasa lalu itu. Tampak sekali bahwa AS meletakkan tanggung jawab penuh atas serangan kimia tersebut kepada pasukan pro Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Kali ini, AS tidak menjatuhkan tuduhan langsung kepada Rusia. Namun, mereka menyebut Rusia, sebagai sekutu Assad, gagal mengendalikan situasi.

"Minimal, Rusia gagal mengendalikan aktivitas rezim Suriah. Kami tahu Rusia memiliki senjata kimia. Tapi kita tidak bisa bicara tentang apa saja keterlibatan antara Rusia dalam kasus ini," jelas para pejabat militer AS itu, dikutip dari nbcnews.

Pihak AS secara hati-hati menganalisa informasi yang menuduh keterlibatan Rusia dalam serangan kimia itu.

Rusia mengkonfirmasi bahwa Suriah telah menyerang kota yang dikuasai pemberontak itu pada Selasa.

Tetapi Rusia menekankan bahwa serangan itu untuk memukul kekuatan pemberontak yang memegang senjata kimia beracun. Rusia membantah keterlibatannya, sekaligus mengutuk serangan rudal AS ke Suriah sebagai "tindakan agresi."

Sementara pemerintah Suriah menegaskan lagi bahwa mereka tidak menggunakan senjata kimia dalam serangan Selasa itu. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya