Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Pembangunan Sektor Perikanan Indonesia Makin Tak Jelas Arah  

RABU, 05 APRIL 2017 | 18:25 WIB | LAPORAN:

Pembangunan sektor perikanan Indonesia tidak jelas arahnya. Selain tidak memiliki peta alias road map, di sektor ini, kebijakan yang dieksekusi oleh pemerintah pun kebanyakan asal jadi saja.

Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Pengurus Pusat Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) Siswaryudi Heru menyampaikan, seperti dalam pengaturan zona penangkapan ikan, pemerintah tidak memiliki arah dan strategi.

"Sepertinya pembangunan perikanan kita tidak ada arah dan strateginya. Misalnya untuk zona penangkapan, harusnya ada mapping strategy di masing-masing zona penangkapan. Lah, yang sekarang malah enggak jelas seperti apa,” jelasnya dalam perbincangan dengan redaksi di Jakarta, Rabu (5/4).


Koordinator Bidang Energi dan Sarana Prasarana Perikanan DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) ini menjelaskan, konsepsi, visi dan misi pengelolaan sektor perikanan Indonesia saat ini tidak sejalan dengan implementasi di perizinan.

Misalnya, lanjut Siswaryudi, pilar sustainability tidak dilaksanakan. "Kenyataannya, lebih banyak alat tangkap jaring yang masih mendominasi. Jadi, sepertinya tidak sinkron  antara konsep dan implementasi,” ujarnya.

Yang lebih miris lagi, lanjut dia, pemerintah malah terkesan sangat mengakomodir sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengurusi sektor perikanan Indonesia.

Selain salah kaprah dan malah tidak pro kepada Indonesia, sejumlah LSM itu malah membuat situasi kian kisruh dan tidak memiliki visi-misi Keindonesiaan.

"Lihat saja, LSM konservasi juga mendominasi kebijakan KKP itu. Pada beberapa forum pertemuan, saya pertanyakan juga kenapa, miksalnya, seperti LSM Greenpeace tidak menyerang negara-negara lain yang menguasai laut lepas dengan kapal-kapal raksasa? Malah negara kita terus yang dipukulin. Dimana nasionalismenya, bung?” pungkas Siswaryudi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN) Hendra Sugandhi juga menyampaikan hal senada. Menurut dia, kebijakan-kebijakan sektor pengeloaan perikanan memang sering tidak sejalan dengan visi misi Indonesia. Bahkan, pemerintah, terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terkesan hanya mengumbar kebijakan-kebijakan dan aksi-aksi populis yang tidak banyak bermanfaat bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia.

Buktinya, lanjut dia, sangat menurunnya produksi dan tangkapan ikan tuna Indonesia. Bahkan, Indonesia kini akan mengimpor ikan tuna dari negara lain. "Aneh sekali. Indonesia sebagai negara maritim yang luas, dengan kekayaan alam laut dan ikan-ikannya, termasuk ikan tuna yang seharusnya melimpah, malah kini akan mengimpor. Ada yang salah arah dalam pengelolaan sektor perikanan kita ini,” ujar Hendra Sugandhi.

Dia berharap, KKP tidak hanya sibuk melakukan penangkapan kapal dan melakukan pengeboman terhadap kapal-kapal pelaku illegal fishing, tetapi juga harus meningkatkan produksi dan daya saing perikanan Indonesia. "Ekspor kita selama 2 tahun ini merosot tajam sebesar Rp 11,44 triliun,” ujar Hendra.

Jika dibandingkan dari jumlah armada pun, lanjut dia, Indonesia sudah sangat jauh ketinggalan dari negara-negara lainnya. Adapun saat ini, jumlah armada perikanan Indonesia di laut lepas merosot drastis dari 1782 kapal (authorized vessel), malah saat ini disinyalir tidak ada satupun kapal Indonesia yang aktif izinnyanya untuk laut lepas.

"Sementara negara lain seperti Taiwan, Jepang, Cina, Pilipina memiliki armada yang bobotnya puluhan kali lipat dari kapal kita. Dan jumlah armadanya pun sangat banyak. Ini jelas merugikan posisi kita sebagai negara urutan kedua dengan pantai terpanjang di dunia, tapi di laut lepas terhempas jauh dari posisi kita dua tahun sebelumnya,” pungkas Hendra. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya