PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar 90 juta dolar AS atau hampir Rp 1,19 triliun. Dana tersebut untuk peremajaan area Sorowako.
Direktur Keuangan INCO Febriany mengatakan, seÂbagian besar dari belanja modal tersebut diperuntukÂkan pada area Sorowako. Hal ini untuk mempertahankan keberlangsungan operasi peÂrusahaan.
"Karena smelter sudah beroperasi 40 tahun, jadi meÂmang perlu peremajaan," kata Febriany di Jakarta, kemarin.
Sumber pendanaan belanja modal, kata dia, berasal dari internal perusahaan. Karena itu, perseroan berharap, harga nikel segera membaik. Pada 2016, harga nikel anjlok 22 persen dibandingkan 2015.
Direktur Utama INCO Nico Kanter mengatakan, tahun ini mereka akan memaksimalkan kapasitas produksi sama sepÂerti tahun lalu sebesar 80.000 metrik ton nikel. Namun, ia pesimistis harga nikel bakal segera pulih, apalagi pemerÂintah telah mengeluarkan kebijakan relaksasi mineral, termasuk nikel dengan kadar rendah di bawah 1,7 persen.
"Kami melihat justru ini akan men-drive harga turun. Semua laporan internasionÂal menyampaikan hal yang sama," tandas Nico.
Untuk diketahui, berdasarÂkan laporan keuangan per Desember 2016, pendapatan INCO sebesar 584,14 juta dolar AS atau turun 26,03 persen dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 789,74 juta dolar AS.
Sedangkan, beban pokok pendapatan turun menjadi 550,02 juta dolar AS dari 671,39 juta dolar AS. Alhasil, laba kotor pada 2016 sebesar 34,12 juta dolar AS atau turun 71,17 persen dari 2015 yang senilai 118,36 juta dolar AS.
Laba tahun berjalan terÂcatat 1,91 juta dolar AS atau merosot 96,22 persen dibandÂingkan laba tahun 2015 yang mencapai 50,50 juta dolar AS. Sedangkan jumlah aset terÂcatat 2,25 miliar dolar AS atau turun dari 2,29 miliar dolar AS. Anjloknya laba perseroan tahun lalau dipengaruhi oleh anjloknya harga nikel. ***