Badan Koordinasi PenanaÂman Modal (BKPM) membidik investor global yang berpenÂgalaman untuk mendukung rencana pemerintah membangun infrastruktur dan kawasan inÂdustri terintegrasi di Indonesia. Indonesia masih butuh banyak investor asing.
Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengaÂtakan, Indonesia masih butuh banyak investasi dari perusaÂhaan asing. "Ini bukan masalah sudah cukup atau belum tapi memang kita masih butuhkan karena kita tetap ingin tumbuh dan berkembang," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Menurut Azhar, tahun ini Indonesia memiliki target perÂtumbuhan ekonomi 5,2 persen dan akan menjadi 6,1 persen di tahun berikutnya. Kebutuhan investasi untuk mencapai target 6,1 persen diperkirakan sebesar Rp 863 triliun.
Dia menambahkan, BKPM tidak hanya mencari investor yang tertarik berinvestasi, namun mereka berkomitmen menjadi mitra strategis Indonesia secara jangka panjang. Pemerintah juga mengedepankan pengalaman dan track record setiap investor.
"Kita kalau mengadakan proÂmosi lebih kedepankan one on one meeting dengan menemui investor yang berpengalaman, punya pendanaan kuat, dan sudah banyak melakukan kegÂiatan usaha di bidang yang kita tawarkan," tambah Azhar.
Azhar bilang, mitra Indonesia saat ini antara lain
Japan InterÂnational Corporation Agency (JICA) dari Jepang yang memÂbangun MRT Jakarta dan TasÂweek Real Estate Development and Marketing dari Uni Emirat Arab yang mengelola sektor properti.
Khusus sektor properti, tahun ini sejumlah investor Jepang berencana membangun real estate dan residensial sederhana. Investor Korea Selatan juga berÂniat membangun properti di Bali dan Tangerang. Yang terbaru, CFLD International berkomitÂmen mengembangkan kawasan industri terintegrasi hunian denÂgan nilai investasi 1,5 miliar dolar AS atau Rp 19,5 triliun dalam lima tahun ke depan.
CFLD International sendiri berÂkantor pusat di Singapura dan dikeÂnal sebagai investor global dengan fokus mengembangkan kota serta kawasan industri di seluruh dunia, termasuk Mesir, Vietnam, KamÂboja, dan Amerika Serikat.
"Investasi CFLD diharapkan menjadi pintu masuk investasi lain di kawasan yang mereka kelola, antara lain dengan menÂdatangkan tenant dari perusaÂhaan-perusahaan global untuk kawasan industri," ujarnya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) InÂdonesia Bidang Industri Johnny Darmawan berharap, pemerÂintah mendukung peningkatan jumlah kemitraan. Terutama dengan pihak swasta dan invesÂtor global.
Ia mengatakan, salah saatu kemitraan yang bisa dilakukan adalah dengan skema public priÂvate partnership (PPP). Cara ini bisa mempercepat pembangunan kawasan industri, baik yang masuk program pembangunan 14 kawasan industri pemerÂintah maupun pengembangan kawasan industri lain.
"Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Pemerintah bisa mencarikan solusi misalnya deregulasi dan debirokrasi untuk memudahkan investor asing masuk atau BUMN yang ingin berinvestasi," kata Johnny.
Ia berharap, pemerintah menÂdukung penuh apabila ada inÂvestor asing yang mengusung mau mengembangkan kawasan industri sekaligus membangun kota-kota industri baru yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dan sosial.
"Apalagi, jika investor terseÂbut mampu mengembangkan
High-Tech Eco Industrial City untuk industri-industri bernilai tambah. Contohnya, industri high-tech, e-commerce, dan bioÂtechnology," ujarnya. ***