Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mempersiapkan Khaira Ummah (36)

Menghindari Ego Keummatan

KAMIS, 23 MARET 2017 | 08:25 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

EGOISME bukan hanya me­lekat pada individu tetapi juga kepada umat. Dalam Is­lam dan mungkin juga dalam agama lain, egoisme tidak pernah berkonotasi positif. Kita perlu berkontemplasi sejenak, betulkah kita sudah khaira ummah sehingga da­pat digunakan rujukan untuk menilai orang dan masyarakat lain. Motivasi apa dan referensi apa yang paling dominan di dalam diri kita untuk berjihad mewujudkan khaira um­mah? Jangan sampai kriteria yang kita gunakan untuk menyasar orang lain justru lebih menon­jol subjektifitas kita yang berbeda dengan orang atau kelompok sasaran. Jangan sampai kita ter­masuk pihak yang disindir pepatah: "Semut mati di seberang laut kelihatan, gajah mati di pelupuk mata tidak kelihatan". Selama namanya manu­sia, pasti subjektifitas pernah mendominasi di­rinya. Dalam keadaan seperti ini manusia cend­erung bukan hanya mengakukan dirinya sendiri tetapi juga berharap mengakukan orang lain.

Ada orang ingin melihat orang lain seperti keakuan dirinya, bukan sesuai dengan esensi universal yang menjadi inti ajaran agama. Kita sering menjumpai orang memaksakan persepsi dan keakuan dirinya diimplementasikan orang lain. Ia kecewa bahkan marah kalau keinginan dirinya berjarak dengan kenyataan. Celakanya, terkadang seseorang menggunakan bahasa agama untuk melegitimasi dan menjustifikasi keakuan diri tersebut, sehingga siapapun yang berbeda dengan dirinya maka salah menurut agama. Atas nama "kebenaran" itu, seseorang bisa menghalalkan yang haram, termasuk men­galirkan darah saudaranya sendiri. Kondisi sede­mikian ini bukanlah sesuatu yang ideal dan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang ideal. Kini sudah saatnya kita melakukan interiorisasi ajaran agama. Jika nilai-nilai ajaran agama men­jadi bagian yang integral, internal, dan inherent di dalam diri setiap individu, maka akan tercip­ta universalitas nilai-nilai ajaran agama di da­lam lingkungan pacu kehidupan kita. Interiorisasi nilai-nilai luhur ajaran agama ke dalam pribadi akan melahirkan kesadaran kolektif dan univer­sal. Betapa tidak, karena kita sudah melihat sub­stansi diri sendiri di dalam diri orang lain, bahkan pada seluruh alam raya.

Setiap kali kita melihat orang lain atau apapun yang kita lihat, seolah-olah substansi diri kita juga ada di sana. Seolah-olah kata "I", "You", dan "he/ she/they/it" menjadi tidak relevan lagi. Seolah-olah kata "I", "You", dan "he/she/they/it" larut menjadi (We). Tidak lagi ada kamus "orang lain" di luar diri kita. Kamus aku adalah kamus engkau dan kamus mereka juga. Dengan demikian, lingkungan sosial tercipta sebuah keindahan. Perbedaan yang ada bukan lagi sesuatu yang menyedot energi, tetapi bagaikan ornamen lukisan warna-warni yang in­dah dan menyejukkan hati dan pikiran. Bukanlah alam in adalah sebuah lukisan, lukisan Tuhan (The Painting of God)? Siapa yang menentang realitas pluralis berarti tidak takjub melihat lukisan Tuhan. Orang yang demikian boleh jadi itulah yang dicap dengan fi qulubihim maradl (dalam hatinya ada yang tidak beres). Jika hal ini berlanjut maka dikha­watirkan berada dalam posisi khatamallah ‘ala qulubihim (Allah mengunci mati hatinya), na’udzu billah.


Sesungguhnya yang ideal ialah proporsional, yakni interiorisasi yang diiringi dengan eksteri­orisasi. Kita harus terlebih dahulu menginternal­isasikan nilai-nilai ideal itu pada diri sendiri sebe­lum menyerukannya kepada orang lain. Nabi mengatakan: Ibda’ bi nafsik (mulailah pada diri sendiri). Allah Swt juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagaimana terangkum di dalam Al- Qur’an diawali dengan proses internalisasi nilai-nilai substantif (aqidah) yang turun di Makkah, yang biasa disebut ayat-ayat Makkiyyah, lalu dis­usul dengan ayat-ayat legal-formalistis untuk ke­hidupan bermasyarakat di Madinah yang dikel­nal dengan ayat-ayat Madaniyyah. Sistematisasi penurunan ayat (at-tanzil) berdasarkan kondisi objektif masyarakat menarik untuk diperhatikan. Sebaiknya kita tidak rancu di dalam memperke­nalkan ajaran agama.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya